“Memang begitu kenyataannya, Tuan Duke yang terhormat,” ucap Lyra masih tak mau kalah sambil melipat tangan di dadanya.“Sudahlah, kalian ini seperti anak kecil yang berebut mainan. Tidak ada yang mau mengalah,” ucap Elara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.“Apa yang dikatakan Valerius tadi memang penuh dengan alasan egois, itu benar. Tapi tawarannya adalah sesuatu yang aku butuhkan, Lyra. Bukan sebagai teman bicara saja, tapi sebagai kepanjangan tanganku.”Lyra menghela napas kasar. “Elara, kau tahu aku sangat menghargaimu, tapi Utara bukan tempatku,” bisik Lyra, lalu matanya melirik ke arah Hans yang kini kembali memasang wajah kaku.“Semuanya di sini terlalu dingin, terlalu kaku, dan terlalu penuh dengan aturan militer yang membosankan.”“Aku tahu kau merasa asing di sini. Tapi lihatlah rakyat di bawah sana,” Elara menunjuk ke arah desa yang terlihat dari ketinggian taman.“Selama ini mereka hanya mengenal ramuan kasar dan sihir yang menyakitkan. Aku ingin mengubah itu. Aku ing
Read more