“Keluar dari kastilku, Isolde,” ucap Valerius dengan nada rendah, namun setiap suku katanya membawa beban ancaman yang nyata.Isolde tertawa getir, lalu mencoba memulihkan harga dirinya. “Kau mengusir ibumu demi wanita yang bahkan tidak bisa memberikanmu satu pun pewaris?“Valerius, sadarlah! Drakenhoff bukan sekadar tanah, ini adalah darah. Tanpa anak, kau menghancurkan silsilah yang sudah kita bangun selama ratusan tahun.”“Darah Drakenhoff tidak akan mati hanya karena aku tidak memiliki anak,” balas Valerius dingin.“Kau gila!” Isolde melangkah maju, lalu menunjuk ke arah potret leluhur yang berjejer di dinding aula.“Lihat mereka! Kakekmu memiliki lima putra, ayahmu memiliki tiga. Mereka semua memastikan garis keturunan ini tetap kokoh menghadapi badai Utara. Kau ingin menjadi orang pertama yang membiarkan api keluarga ini padam?”“Jika api itu harus padam, maka biarlah padam bersamaku,” sahut Valerius tanpa ragu.Dia lalu menoleh sedikit ke belakang, memastikan Elara masih berada
Read more