Sudah waktunya makan siang.Di hadapannya, sebuah meja kayu panjang yang mampu menampung lima puluh orang telah dipenuhi dengan berbagai hidangan mewah, sup daging rusa yang mengepul, roti gandum hangat, dan buah-buahan musim dingin yang diawetkan.Namun, semua kemewahan itu terasa hambar saat Elara menyadari hanya ada satu piring yang tertata di ujung meja.“Emma,” panggil Elara dengan pelan, memecah kesunyian ruangan yang hanya diisi oleh suara denting perak.Emma, pelayan senior yang rambutnya sudah memutih di bagian pelipis, melangkah maju dengan kepala menunduk hormat. “Ya, Lady Elara? Apakah hidangannya ada yang kurang?”“Apakah aku benar-benar harus menghabiskan makan siang ini seorang diri lagi?” tanya Elara sambil menatap kursi kosong di ujung meja yang jauh.“Di mana Duke? Kenapa dia tidak mau ikut makan siang denganku? Rasanya setiap hari aku hanya bicara dengan dinding di ruangan ini.”Emma menarik napas panjang, wajahnya menunjukkan raut tidak enak hati.“Mohon maaf, Mila
Read more