Angin di lereng utara menderu seperti suara logam yang beradu, menusuk langsung ke balik mantel wol Elara yang sudah mulai basah.Dia merangkak di atas tumpukan salju yang keras, dengan kedua lututnya mati rasa, sementara jemarinya terus menggaruk permukaan tanah yang membeku di bawah akar pohon pinus tua.“Satu lagi ... harus ada satu lagi di sini,” bisik Elara, suaranya nyaris hilang ditelan badai.Ia mengabaikan rasa perih yang menjalar di ujung jari-jarinya. Kuku-kukunya sudah pecah dan berdarah karena menghantam tanah yang sekeras batu. Cairan merah yang keluar segera membeku, meninggalkan noda gelap di atas salju putih.Namun, Elara tidak berhenti. Dia tahu Akar Api biasanya tumbuh berumpun, dan satu buah yang ia temukan tadi tidak akan cukup untuk mencairkan darah Valerius yang mengkristal.“Jangan mati, Valerius. Kau tidak boleh mati di gubuk busuk itu,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri agar tidak jatuh pingsan.Tiba-tiba, suara geraman rendah terdengar dari balik kabut
Read more