Valerius merapikan kerah kemejanya dengan kasar, menyembunyikan bercak hitam yang merayap di lehernya seolah-olah dengan menutupinya, kutukan itu akan berhenti bekerja.Dia tidak ingin mendengar vonis medis dari mulut istrinya sendiri. Baginya, mengakui bahwa maut sedang mengintai adalah bentuk kekalahan yang paling hina.“Berhenti menatapku seolah-olah aku sudah mati, Elara,” suara Valerius terdengar tajam dan berwibawa, kontras dengan rona wajahnya yang kian memucat.Elara masih berdiri terpaku, dengan tangannya yang masih menggantung di udara.“Kau butuh istirahat total, Valerius. Garis itu sudah sampai ke rahangmu. Jika merambat ke jantung, ramuan apa pun yang kubuat tidak akan berguna lagi!”Valerius tidak mengindahkan peringatan itu. Dia justru melangkah menuju rak besar di belakang mejanya, menarik tiga bendel besar dokumen berlapis kulit, dan membantingnya ke atas meja kerja Elara hingga debu beterbangan.Brak!“Ini laporan logistik dari wilayah Barat, laporan pajak dari Selat
Read more