“Ah, wanita itu lagi,” gumam Elara kemudian memalingkan wajahnya lagi karena tidak ingi terlalu lama menatap Cendana.Sementara Valerius menangkap peluang itu dengan cepat. Melihat Cendana yang berdiri mematung menunggu jawaban, ia tidak segera mengusirnya.Sebaliknya, dia melirik Elara dari sudut matanya, berharap melihat kilat kemarahan atau setidaknya gurat tidak suka di wajah istrinya.Valerius perlahan mengangkat tangannya, dan jemarinya menyentuh dagu Cendana dengan gerakan yang sengaja diperlambat.“Kau terlalu berisik, Cendana,” ucap Valerius dengan nada datar dan dingin, namun tangannya tetap berada di sana, membelai garis rahang wanita itu di depan mata Elara.Cendana tersipu lalu meraih lengan Valerius dan merapat. “Habisnya kau jahat sekali mengabaikanku. Bukankah sudah lama sekali kita tidak menghabiskan waktu bersama? Makan malamlah bersamaku nanti, Valerius. Hanya kita berdua, tanpa ada dokumen-dokumen membosankan ini.”Elara yang menyaksikan pemandangan itu hanya menge
Read more