Cahaya lampu minyak di sudut laboratorium berkedip lemah, hampir mati, meninggalkan ruangan dalam keremangan yang hanya disinari oleh bara api yang memudar.Di atas meja batu yang keras dan dingin, Valerius membaringkan Elara dengan kelembutan yang kontras dengan ketegasan gerakannya.Tidak ada lagi jubah bulu atau kain linen yang memisahkan mereka. Dalam kesunyian itu, hanya terdengar suara napas yang memburu dan detak jantung yang saling beradu.Valerius mencium kening Elara, lalu turun ke rahang dan lehernya. Setiap sentuhannya terasa seperti api yang mencoba membelah lapisan es.Ia bergerak dengan intensitas yang menakutkan, seolah-olah setiap detik yang ia lewatkan adalah pengkhianatan terhadap waktu yang tersisa.“Valerius, tubuhmu... kau masih sangat lemah,” bisik Elara, tangannya mencengkeram bahu kokoh suaminya.“Diamlah, Elara. Biarkan aku merasakanmu sepenuhnya,” sahut Valerius, suaranya rendah dan sarat akan keinginan yang mendalam.“Aku tidak ingin memikirkan kutukan itu
Read more