“Baiklah, jika itu yang kau inginkan, Nak,” bisik wanita itu dengan pelan.“Jalan menuju ke sana adalah melalui cahaya biru di balik bukit itu,” ucap ibunya sambil menunjuk ke arah pendaran biru yang tadi ia hindari. “Tapi ingat, begitu kau melangkah masuk, aku tidak bisa lagi melindungimu. Kau akan berhadapan dengan bayangan-bayangan yang sangat kejam.”Elara mulai melangkah, kakinya terasa ringan namun pasti di atas rerumputan. Pendaran cahaya biru itu meledak di depan mata Elara, menelan kehangatan padang rumput ibunya dalam sekejap.Dalam sekejap mata, suhu di sekelilingnya merosot tajam hingga ke titik yang menyakitkan. Elara terengah, uap napasnya membeku di udara yang terasa berat dan berbau debu kuno.Ia tidak lagi berada di alam baka yang tenang. Di hadapannya, berdiri replika Kastil Drakenhoff yang terdistorsi, bangunan-bangunan tuanya tampak lebih tinggi, lebih tajam, dan diselimuti bayangan hitam yang bergerak-gerak. Langit di atasnya berwarna kelabu pekat, tanpa bintang m
Read more