Hans berdiri dengan punggung tegak, pedangnya membentuk sudut protektif di depan Valerius. Matanya menyisir sela-sela pohon ek kuno yang seolah-olah merapat, mengunci mereka dalam labirin kayu yang menyesakkan.Kesunyian hutan ini terasa tidak alami; tidak ada suara jangkrik, tidak ada kepak sayap burung, hanya suara napas mereka yang menderu pelan.“My Lord, kita harus mundur ke tanah lapang. Di sini, bayangan adalah kawan terbaiknya, bukan kita,” bisik Hans, suaranya sarat dengan kecemasan yang tertahan.Valerius tidak bergeming. Ia menyeka tetesan darah yang mulai mengering di pelipisnya, matanya tetap terpaku pada kegelapan di depan.“Mundur berarti memberinya kemenangan moral, Hans. Aku tidak akan membiarkan wanita itu merasa dia telah mengusirku dari tanahku sendiri.”“Ini bukan soal moral, ini soal taktik!” Hans sedikit meninggikan suaranya, rasa frustrasinya mulai meluap.“Isolde bukan Alistair yang mengandalkan otot. Dia adalah ular yang menunggu kita terperosok ke dalam luba
Read More