Cahaya keemasan dari tubuh Elara terus berpijar, menantang kegelapan aula yang kian menghimpit.Namun, sebelum sang Kakek sempat melancarkan serangan balasan, sebuah siluet lain muncul dari balik kabut abu-abu di sudut panggung. Sosok itu melangkah dengan keanggunan yang tenang, meski wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.“Cukup, Ayah. Hentikan semua ini,” suara wanita itu lembut, namun mampu membungkam deru badai es di sekitar mereka.Valerius tersentak, matanya yang sayu melebar. “Ibu...?”Wanita itu adalah ibu kandung Valerius, menantu yang selama ini bungkam di bawah otoritas kaku sang Kakek.Ia mengabaikan tatapan tajam mertuanya dan langsung berjalan menuju tengah panggung. Tanpa peringatan, ia menjatuhkan lututnya ke lantai batu yang dingin, bersujud di hadapan sang Kakek dengan posisi yang penuh penderitaan.“Apa yang kau lakukan, Marianne? Berdiri!” bentak sang Kakek, wajahnya tampak tidak nyaman melihat tindakan tersebut.“Aku tidak akan berdiri sampai kau melihat ap
Read more