Waktu berlalu dengan cepat. Matahari mulai condong ke arah barat, meninggalkan semburat warna jingga dan ungu di langit Pesantren Al-Fatih. Setelah rangkaian acara yang melelahkan, para tamu mulai berpamitan.Mbak Fatma dengan sigap menghampiri anaknya sendiri dan juga keponakannya. “Sudah, Abang Akmal, Arka, Dina... ikut Ummi Fatma dulu yuk. Kita main di taman belakang, lihat ikan koi di kolam. Umma dan Abah mau istirahat sebentar, jangan diganggu ya,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Almira.Almira merasa wajahnya memanas. Ia mengikuti langkah Rayyan menuju bangunan utama ndalem. Mereka tidak menuju kamar pengantin, melainkan ke ruang kerja pribadi Rayyan. Sebuah ruangan yang sangat sakral, penuh dengan ribuan kitab yang tertumpuk rapi hingga ke langit-langit, dengan aroma parfum gaharu yang menenangkan dan udara yang sejuk.Begitu pintu jati itu tertutup, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.Almira merasa lidahnya kelu. Meski mereka sudah sah, ada rasa canggung
Last Updated : 2026-05-04 Read more