Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Aturan Rumah Moretti

Share

Aturan Rumah Moretti

last update publish date: 2026-03-15 23:56:10
Pintu kamar menutup pelan di belakang Adriano.

Bunyinya kecil—

tapi cukup untuk mengubah udara di dalam ruangan.

Elena langsung berdiri.

Gerakannya terlalu cepat untuk disebut kebetulan. Seolah tubuhnya sudah lebih dulu mengambil keputusan sebelum pikirannya sempat menyusul. Mangkuk sup hangat ia turunkan ke meja dengan hati-hati.

Sendok berdenting pelan di porselen.

Ia berdiri tegak di samping kursi.

Tidak mundur.

Tidak mendekat.

Namun seluruh sikapnya berbicara jelas:

waspada.

Adria
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jarak Itu Akhirnya Hilang

    Koridor mansion membentang sunyi.Lampu-lampu dinding memantulkan cahaya keemasan di atas marmer. Dari ballroom yang kini tertinggal jauh, gesekan biola masih terdengar tipis, seperti datang dari dunia lain.Elena berjalan lebih dulu.Langkahnya tak lagi setegas saat memasuki Palazzo San Giorgio. Hak sepatunya sesekali bergeser tipis sebelum kembali menemukan keseimbangan.Adriano mengikuti beberapa langkah di belakang.Tatapannya singgah pada punggung perempuan itu."Kau tidak terbiasa minum."Elena tidak menoleh."Aku terbiasa menuangkannya."Mereka terus berjalan."Dulu aku menghafal botol dari warna labelnya."Senyum tipis singgah di bibir Elena. Terlalu hambar untuk disebut senyum."Orang yang benar-benar kaya jarang menghabiskan gelas mereka."Tak ada jawaban.Di depan sebuah pintu, Elena berhenti.Adriano lebih dulu memutar gagang.Daun pintu terbuka.Elena masuk.Ruangan itu kembali menyambut mereka dengan keheningan yang sudah akrab.Ia duduk di ujung ranjang.Sepatu hak pert

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tidak Ada yang Kembali Sama

    Musik kembali memenuhi ballroom. Gesekan biola mengalir di antara denting gelas dan percakapan yang kembali menemukan iramanya. Para pelayan bergerak membawa baki perak dari satu kelompok tamu ke kelompok lain, sementara lampu kristal memantulkan cahaya hangat ke permukaan lantai marmer. Adriano melangkah lebih dulu. Elena mengikutinya. Tak satu pun tamu menyinggung kepergiannya beberapa menit lalu. Sapaan kembali terdengar seperti biasa, seolah tak pernah ada jeda di tengah pesta. Seorang pelayan lewat. Adriano mengambil dua gelas anggur. Satu tetap berada di tangannya. Satu lagi diulurkan kepada Elena. Perempuan itu tidak segera menyambutnya. Tatapannya singgah pada jemari Adriano yang menggenggam tangkai gelas. Naik ke wajah pria itu.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Pilihan yang Tidak Pernah Bebas

    Musik kembali memenuhi ballroom. Gesekan biola mengalir di antara denting gelas dan percakapan yang mulai hidup lagi. Para pelayan bergerak membawa baki minuman. Tamu-tamu kembali berbaur, seolah perempuan yang beberapa menit lalu meninggalkan panggung hanyalah jeda singkat dalam rangkaian acara yang tetap harus berjalan. Adriano turun dari sisi panggung. Beberapa orang menganggukkan kepala ketika berpapasan dengannya. Ia membalas seperlunya. Langkahnya tak melambat hingga mencapai pintu samping ballroom. Daun pintu terbuka. Suara musik meredup di belakang punggungnya. Koridor menyambut dengan kesunyian yang nyaris utuh. Bunyi sepatunya memantul di lantai marmer. Tok. Tok. Tok. Di ujung lorong, dua daun pintu berdiri saling berhadapan. Ladies. Gentlemen.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Mereka Tak Punya Banyak Waktu

    Daun pintu ruang rias tetap tertutup. Dengung pendingin ruangan mengisi ruang yang terlalu sunyi untuk disebut tenang. Elena masih berdiri di depan cermin. Jemari kirinya terangkat. Cincin itu masih berada di sana. Tak bergeser. Suara langkah terdengar di koridor. Satu pintu terbuka. Sunyi. Pintu lain. Kembali tertutup. Langkah itu mendekat. Berhenti tepat di depan ruang rias. Gagang pintu bergerak. Daun pintu terbuka. Julian berdiri di ambang. Napasnya belum sepenuhnya teratur, seolah seluruh koridor baru saja dilaluinya tanpa sempat berhenti. Tatapannya langsung menemukan Elena. "Elena." Elena menoleh. Sorot matanya membeku sesaat. "Julian." Tak ada yang bergerak. Pandangan Julian turun pada gaun hitam yang dikenakannya. Naik ke wajah Elena. Berakhir pada cincin yang memantulkan cahaya di jari manisnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Elena nyaris lebih pelan daripada dengung pendingin ruangan. "Kau seharusnya tidak datan

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Seseorang Mengikutinya

    Daun pintu menutup di belakang Elena.Suara tepuk tangan berubah menjadi gema yang tertahan di balik dinding tebal ballroom.Koridor memanjang di bawah deretan lampu dinding. Cahaya keemasan jatuh membentuk garis-garis panjang di atas lantai marmer.Hak sepatunya memecah kesunyian.Tok.Tok.Tok.Tak ada langkah lain.Musik kuartet masih terdengar samar dari balik pintu-pintu kayu yang tertutup rapat.Elena berhenti di depan ruang rias.Tangannya mendorong gagang.Ruangan itu kosong.Pintu kembali menutup.Suara dari luar menghilang.Yang tersisa hanya dengung pendingin ruangan.Ia berdiri di depan wastafel.Pantulan perempuan di cermin ikut memandanginya.Gaun hitam itu tetap jatuh sempurna.Tak ada lipatan yang berubah sejak ia naik ke atas panggung.Rambut yang ditata rapi masih berada di tempatnya.Sebentuk berlian melingkari jari manis tangan kirinya.Tak ada yang bergerak.Kedua telapak tangannya bertumpu di bibir wastafel.Dingin marmer merambat ke ujung jemarinya.Suara itu ke

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jawaban yang Tak Pernah Mereka Duga

    Pembawa acara tetap mengulurkan mikrofon. Tak satu pun tamu mengalihkan pandangan. Bahkan pelayan yang melintas membawa baki anggur ikut menghentikan langkah, seolah takut bunyi kristal yang beradu akan mengganggu jawaban yang sedang ditunggu seluruh ruangan. Elena menarik napas pelan. Tatapannya menyapu wajah-wajah yang tak dikenalnya. "Masih banyak yang harus kupelajari." Suaranya tenang. Cukup jelas hingga mencapai barisan paling belakang. Beberapa kepala mengangguk. Tepuk tangan tipis terdengar, sopan, lalu mereda dengan sendirinya. Pembawa acara tersenyum. "Jawaban yang rendah hati, Signora." Ia tidak menarik mikrofon. "Kalau begitu... bisa dibilang Anda mulai terbiasa menjadi bagian dari keluarga Moretti?" Elena terdiam sesaat. Pandangan matanya terangkat ke lampu kristal yang menggantung tinggi sebelum kembali kepada pria di depannya. "Belum." Satu kata. Tepuk tangan yang baru saja lahir lenyap begitu saja. Senyum pembawa acara sempat membe

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Lagi Sekadar Dipamerkan

    Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Seharusnya Ada

    Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sarapan yang Tidak Pernah Aman

    Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jika Dia Titik Lemahmu

    Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status