Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Aturan Rumah Moretti

Share

Aturan Rumah Moretti

last update publish date: 2026-03-15 23:56:10
Pintu kamar menutup pelan di belakang Adriano.

Bunyinya kecil—

tapi cukup untuk mengubah udara di dalam ruangan.

Elena langsung berdiri.

Gerakannya terlalu cepat untuk disebut kebetulan. Seolah tubuhnya sudah lebih dulu mengambil keputusan sebelum pikirannya sempat menyusul. Mangkuk sup hangat ia turunkan ke meja dengan hati-hati.

Sendok berdenting pelan di porselen.

Ia berdiri tegak di samping kursi.

Tidak mundur.

Tidak mendekat.

Namun seluruh sikapnya berbicara jelas:

waspada.

Adria
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Pesan Itu Akhirnya Terkirim

    Pagi turun dingin di atas mansion Moretti. Kabut tipis masih menggantung rendah di sisi taman belakang saat cahaya pertama masuk melalui jendela tinggi ruang makan. Langit Genoa belum benar-benar terang. Warna abu pucat masih menempel di kaca. Suara peralatan makan terdengar pelan di meja panjang. Adriano duduk di ujung meja dengan kemeja hitam yang lengan atasnya sudah tergulung rapi. Satu tangan memegang cangkir espresso, sementara beberapa dokumen terbuka di dekat piring sarapan yang hampir tidak disentuh. Elena duduk dua kursi di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak cukup jauh. Semalam nyaris tidak ada percakapan setelah mereka masuk kamar. Adriano mandi lebih dulu. Membuka beberapa file di sofa. Menjawab dua panggilan singkat. Lalu tidur dengan tenang seolah tidak ada apa pun yang berubah. Justru itu yang membuat Elena tidak benar-benar bisa memejamkan mata sepanjang malam. Sekarang pria itu tampak sama seperti biasanya. Terlalu sama. Seorang staff masuk membawa

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Satu Rumah, Dua Jarak yang Tidak Sama

    Mobil berhenti di halaman mansion tepat saat lampu depan menyapu deretan pilar batu dan tangga marmer yang basah tipis oleh udara malam. Mesin mati perlahan. Sunyi langsung mengambil alih setelah dengung panjang perjalanan dari museum berhenti. Seorang staff sudah menunggu di bawah teras depan. Pintu belakang dibukakan lebih dulu. Elena turun tanpa terburu. Hak sepatunya menyentuh batu halaman pelan. Gaun hitamnya bergerak tipis diterpa angin malam sebelum kembali jatuh rapi di sepanjang tubuhnya. Ia tidak langsung menoleh ke belakang. Tidak juga mencari Adriano. Tangannya hanya bergerak kecil membetulkan ujung clutch sebelum turun lurus di sisi tubuh lagi. Lampu mansion terasa terlalu terang setelah perjalanan panjang dalam mobil gelap tadi. Beberapa jendela lantai atas masih menyala. Cahaya kuningnya jatuh pucat di batu halaman yang lembap. Adriano belum turun. Ia tetap duduk beberapa detik di dalam mobil dengan satu tangan bertumpu di sandaran pintu. Ta

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ada Sesuatu di Bibir Elena

    Canapé reception mulai kehilangan bentuknya sebagai pesta.Suara-suara masih ada, tapi tidak lagi padat. Percakapan pecah menjadi kelompok kecil yang cepat selesai lalu menghilang bersama langkah para kolektor menuju pintu keluar. Pelayan bergerak lebih aktif sekarang, mengangkat baki gelas kosong dan piring canapé yang tersisa setengah.Beberapa lampu di sisi galeri diredupkan.Pantulan emas di permukaan kaca artefak berubah lebih dingin.Adriano masih berdiri di dekat meja panjang tadi.Elena berada di sisinya.Cukup dekat untuk terlihat sebagai bagian dari garis yang sama.Malam itu tubuhnya terasa terlalu sadar pada dirinya sendiri.Pada posisi berdirinya.Pada napasnya.Pada bibirnya sendiri.Ia menyentuh batang gelas sekali lagi sebelum akhirnya menyadari gerakan itu sudah terlalu sering dilakukan.Lalu berhenti.Seorang kolektor asal Firenze sedang berbicara tentang restorasi lukisan gereja tua ketika Adriano mengangguk pendek sebagai jawaban. Tatapannya tetap tenang, tetapi be

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tidak Ada Tempat Aman di Meja Moretti

    Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang memantul lembut pada permukaan kaca dan logam artefak. Adriano berdiri di salah satu meja panjang bersama tiga tamu museum dan Valerius. Segelas anggur berada di tangannya. Seorang kolektor tua sedang menjelaskan sesuatu tentang pengiriman dari Marseille—terlalu detail untuk percakapan sosial, tapi tetap didengar karena nama-nama yang terlibat cukup besar untuk membuat orang berpura-pura tertarik. Adriano menjawab seperlunya. Pendek. Tepat. Tatapannya sesekali turun ke gelas sebelum kembali ke lawan bicara. Valerius duduk sedikit di belakang garis meja dalam kursi rodanya. Diam lebih banyak daripada berbicara. Jemarinya memutar batang gelas perlahan, seolah ritme

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Satu Ciuman, Dua Pengkhianatan

    Ciuman itu putus tanpa benar-benar memberi jarak. Napas mereka masih saling menyentuh. Elena lebih dulu memalingkan wajah. Bukan menjauh penuh. Hanya cukup untuk mengambil udara tanpa harus melewati Julian. Dadanya naik perlahan. Turun. Ia menelan sekali sebelum mengangkat tangan—menyentuh pergelangan Julian yang masih berada terlalu dekat di sisi wajahnya. Menurunkannya. Pelan. Tidak kasar. “Kau seharusnya tidak melakukan itu.” Suaranya kembali rapi lebih dulu dibanding matanya. Julian tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap pada Elena—pada bibir yang belum sepenuhnya kehilangan jejaknya, pada napas yang masih datang tidak utuh. Ia tidak meminta maaf. Tidak juga mundur. Lorong sempit itu terasa terlalu kecil untuk diam yang belum selesai berubah bentuk. Elena mendorong tubuhnya lepas sedikit dari rak di belakang. Cukup untuk mendapatkan kembali garis tegaknya sendiri. “Aku serius.” “Kau masih di sini.” Jawaban itu datang rendah. Tenang. B

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Pergi. Itu yang Menghancurkan

    Langkah mereka tidak kembali ke keramaian. Arah saja yang berubah—cukup tegas untuk membuat tubuh mengikuti tanpa perlu ditarik lebih keras. Suara dari ruang utama tertinggal beberapa lapis di belakang. Masih ada, tapi pecah. Tawa berhenti di tengah. Nama-nama tidak lagi utuh saat sampai. Lorong di belakang barisan artefak lebih sempit. Cahaya jatuh lurus dari atas—dingin, tanpa pantulan. Dinding tidak menawarkan apa-apa selain jarak. Julian terus berjalan. Sampai langkah mereka mulai terdengar sendiri. Baru ia berhenti. Tangannya lepas dari pergelangan Elena—bukan dilepaskan, lebih seperti dibuang dari posisi yang sudah tidak diperlukan. Ada sisa dorongan kecil di akhir gerakan itu. Elena tidak mundur. Tidak juga mendekat. Ia tetap di tempatnya saat jarak di antara mereka terbuka tipis—cukup untuk terasa. Udara di sini berbeda. Lebih

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sekarang Kau Tahu

    Elena masih berdiri di depan jendela. Kain lap ada di tangannya. Permukaan kaca sudah bersih, namun ia tetap menggerakkan kain itu perlahan—gerakan yang sama, berulang, seolah pekerjaannya belum selesai. Pantulan dirinya samar di kaca. Di luar, lampu taman menyala pucat di antara semak-semak y

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ruangan yang Sedang Dipersiapkan

    Sore di mansion Moretti datang tanpa warna. Langit di luar jendela tinggi berubah abu-abu pucat, dan cahaya yang masuk ke dalam rumah terasa tipis—seperti sesuatu yang ragu untuk bertahan lebih lama. Koridor belakang masih lembap oleh bau sabun pembersih ketika Elena sedang merapikan ember dan k

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jika Undangan Ditolak

    Sore perlahan turun di mansion Moretti. Cahaya matahari yang sebelumnya memenuhi jendela tinggi kini berubah lebih redup, jatuh miring di lantai marmer ruang kerja Adriano. Bayangan rangka jendela memanjang di karpet gelap seperti kisi-kisi penjara. Di luar, taman belakang mulai tenggelam dala

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Pintu yang Seharusnya Tetap Tertutup

    Matahari sudah lebih tinggi ketika gunting rumput itu akhirnya berhenti bergerak. Elena berdiri di tengah potongan daun yang berserakan. Bilah logam terbuka di tangannya. Lalu menutup perlahan. Klik. Ia menurunkannya pelan. Pergelangan kakinya berdenyut di balik perban yang mulai lembap.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status