共有

bab

last update 公開日: 2026-03-18 21:21:53

Suara pecahan masih menggantung di udara.

Tidak ada yang bergerak.

Detik berjalan terlalu lama untuk sekadar jeda—cukup panjang untuk membuat napas terasa salah tempat. Beberapa orang menunggu. Bukan reaksi. Bukan empati.

Menunggu perintah.

Atau hukuman.

Tidak ada yang datang.

Hanya langkah Adriano yang menjauh.

Tenang. Terukur.

Seperti tidak ada yang baru saja hancur di belakangnya.

Elena berdiri di tengah serpihan.

Ujung sepatunya menyentuh kaca tipis. Retakan kecil terdengar—hampi
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Lagi Ditempatkan

    Adriano masuk. Langkahnya terdengar di lantai kayu perpustakaan — berbeda dari marmer koridor. Lebih hangat. Lebih nyata. Elena tidak menoleh. Halaman di tangannya bergerak. Satu. Pelan. Berhenti. Matanya tetap di sana — pada garis yang terlalu tipis untuk disebut retakan, terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Ia tahu. Bukan dari suara. Dari perubahan udara. Dari sesuatu yang berhenti sebelum benar-benar terjadi. Ia tidak menutup buku itu. Tidak juga mengangkat kepala. Ia tetap membaca. Adriano mengamati beberapa detik lebih lama. Lalu melangkah masuk. Suara langkahnya tidak keras, tapi cukup untuk diakui. Baru saat itu — Elena berhenti. Bukan kaget. Hanya berhenti. Tangannya masih di halaman terbuka. Buku tidak ditutup. Tidak disembunyikan. Jarak di antara mereka menyempit. Adriano berdiri di sisi meja. Matanya turun ke halaman. Ke garis itu. Ke detail yang tidak semua orang akan lihat. Lalu ke Elena. "Itu bukan untuk diba

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Celah dalam Kesempurnaan

    Pintu kamar tertutup. Elena tidak bergerak. Tangannya masih di atas sprei yang sudah rapi—gerakan kecil yang terhenti di tengah. Langkah kaki di luar. Berhenti. Kunci berputar. Pintu terbuka. Adriano masuk. Ia tidak langsung berjalan. Satu jeda di ambang. Matanya ke Elena. Turun ke tangan. Kembali. Cukup. Pintu tertutup. Klik. Ia melepas mantel. Menaruhnya di kursi. Tidak ke jendela. Ia duduk. Kursi menghadap sebagian ke ruangan. Ke arah Elena. Tidak sepenuhnya. Tidak lagi membelakangi. Perubahan kecil. Terlihat. Elena menangkapnya. Tidak bergerak. Tidak bertanya. Ia hanya menyimpan. Sunyi turun. Bukan jarak. Bukan batas. Hadir. Adriano membuka berkas. Kertas bergeser pelan. Lampu meja menyala. Cahaya jatuh di tangannya. Gerakannya tetap. Tertutup. Tidak sepenuhnya. Ada jeda kecil sebelum halaman dibalik. Sekilas. Hilang. Elena tidak mencarinya. Ia berbaring. Lampu padam. Gelap tidak penuh.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Pernah Dimaksudkan untuk Dilihat

    Rute berubah setelah persimpangan kedua. Elena menyadarinya dari ritme jalan — belokan yang tidak familiar, aspal yang berganti tekstur, cahaya kota yang bergeser ke zona yang lebih sunyi. Elena tidak bertanya. Ia melihat. Bangunan di kiri kanan mulai seragam. Dinding putih. Jendela besar tanpa tirai. Pintu kaca bersih, terlalu bersih, seperti tidak pernah disentuh oleh tangan yang ragu. Mobil berhenti. Mesin tetap hidup beberapa detik sebelum dimatikan. Adriano turun. Elena mengikuti. Udara di dalam berbeda dari tempat-tempat sebelumnya — bersih, sedikit tajam, campuran pelarut dan kayu tua dan sesuatu yang lebih halus di bawahnya. Bau kerja yang presisi. Ruangan itu terang. Putih. Lampu fokus menggantung rendah di atas meja-meja panjang. Setiap meja diisi satu pekerjaan. Tidak ada suara keras. Hanya gesekan halus — alat kecil menyentuh permukaan, kain lembut mengusap, logam tipis beradu pelan. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang melihat. Mereka masu

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Lagi Hanya Melihat

    Elena tidak menoleh lagi. Langkahnya menjauh dari cahaya. Trotoar memanjang tanpa penanda. Lampu jalan berdiri berjauhan—memberi terang secukupnya, lalu menyerah pada gelap di antaranya. Ia berjalan. Ritmenya tetap. Sebuah mobil melintas. Lampunya menyapu wajahnya sekilas. Tidak melambat. Dua orang dari arah berlawanan lewat tanpa kata. Pandangan mereka singkat—lalu hilang bersama langkah. Satu taksi kosong melintas pelan. Tidak berhenti. Lampunya tetap menyala saat menjauh. Elena terus berjalan. Udara malam membawa bau aspal dan laut yang tipis. Tidak mengganggu. Tidak membantu. Beberapa meter kemudian, ia berhenti. Bukan ragu. Tangannya diam di sisi tubuh. Napasnya teratur. Matanya menyapu ujung jalan—belokan, bayangan, ruang yang tidak memberi petunjuk. Ia tidak mencari arah. Ia menilai. Suara mesin muncul dari belakang. Halus. Terukur. Mendekat tanpa tergesa. Elena tidak menoleh. Cahaya dari belakang memanjang di aspal, memotong bayangannya. Mobi

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Kembali ke Tempat yang Sama

    Mobil berhenti tanpa suara berlebih. Bangunan di depan mereka tidak mencolok. Dinding batu pucat, jendela tinggi tanpa tirai, pintu logam yang sering dibuka tanpa pernah terlihat tergesa. Tidak ada papan nama. Tidak ada tanda. Adriano turun lebih dulu. Elena mengikuti. Udara di dalam lebih dingin. Bau kayu tua bercampur logam tipis, tertahan di tenggorokan. Seorang pria menunggu di tengah ruangan. Pakainya rapi tanpa usaha terlihat mahal. Di belakangnya, dua orang berdiri sedikit menyamping. Tidak menghalangi jalan. Tidak juga membuka ruang. Tidak ada sambutan. Hanya anggukan kecil. Adriano berhenti cukup dekat untuk membuat jarak itu terasa disengaja. Elena tetap satu langkah di belakangnya. Koper dibawa masuk oleh pengawal. Diletakkan di atas meja panjang. Bunyi logamnya pendek saat menyentuh kayu. Pria itu melirik sekilas. Belum mendekat. “Pengirimanmu tidak sampai.” Nada ringan. Adriano tidak menjawab. Ia memberi isyarat kecil. Koper dibuka.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Akan Terjadi Sudah Menunggu di Depan

    Pagi datang tanpa suara. Elena tidak tahu apa yang membangunkannya lebih dulu—dinginnya sisi ranjang yang kosong, atau hilangnya sesuatu yang semalam terasa terlalu dekat. Matanya terbuka perlahan. Cahaya di balik tirai masih pucat. Belum cukup terang untuk disebut pagi. Aroma kopi sudah lebih dulu ada—tipis, pahit, masuk tanpa perlu diundang. Ia duduk. Seprai di sisinya sudah rata. Tidak ada bekas. Adriano sudah bangun. Duduk di kursi dekat jendela, punggung tegak. Setelan abu-abu rapi tanpa lipatan, seolah malam tidak meninggalkan apa pun di tubuhnya. Uap tipis naik dari cangkir di tangannya—satu-satunya gerakan di ruangan itu. Di meja kecil, sarapan tersusun. Rapi. Tepat. Tidak disentuh. Pisau kecil sejajar dengan piring. Cangkir kedua disiapkan—kosong. “Bersiap.” Ia tidak menoleh. Elena turun dari ranjang tanpa menjawab. Kakinya menyentuh lantai dingin. Ia bergerak cepat—air mengalir singkat di wastafel, rambut dirapikan tanpa benar-benar diperiksa, ma

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status