FAZER LOGINKoridor mansion membentang sunyi.Lampu-lampu dinding memantulkan cahaya keemasan di atas marmer. Dari ballroom yang kini tertinggal jauh, gesekan biola masih terdengar tipis, seperti datang dari dunia lain.Elena berjalan lebih dulu.Langkahnya tak lagi setegas saat memasuki Palazzo San Giorgio. Hak sepatunya sesekali bergeser tipis sebelum kembali menemukan keseimbangan.Adriano mengikuti beberapa langkah di belakang.Tatapannya singgah pada punggung perempuan itu."Kau tidak terbiasa minum."Elena tidak menoleh."Aku terbiasa menuangkannya."Mereka terus berjalan."Dulu aku menghafal botol dari warna labelnya."Senyum tipis singgah di bibir Elena. Terlalu hambar untuk disebut senyum."Orang yang benar-benar kaya jarang menghabiskan gelas mereka."Tak ada jawaban.Di depan sebuah pintu, Elena berhenti.Adriano lebih dulu memutar gagang.Daun pintu terbuka.Elena masuk.Ruangan itu kembali menyambut mereka dengan keheningan yang sudah akrab.Ia duduk di ujung ranjang.Sepatu hak pert
Musik kembali memenuhi ballroom. Gesekan biola mengalir di antara denting gelas dan percakapan yang kembali menemukan iramanya. Para pelayan bergerak membawa baki perak dari satu kelompok tamu ke kelompok lain, sementara lampu kristal memantulkan cahaya hangat ke permukaan lantai marmer. Adriano melangkah lebih dulu. Elena mengikutinya. Tak satu pun tamu menyinggung kepergiannya beberapa menit lalu. Sapaan kembali terdengar seperti biasa, seolah tak pernah ada jeda di tengah pesta. Seorang pelayan lewat. Adriano mengambil dua gelas anggur. Satu tetap berada di tangannya. Satu lagi diulurkan kepada Elena. Perempuan itu tidak segera menyambutnya. Tatapannya singgah pada jemari Adriano yang menggenggam tangkai gelas. Naik ke wajah pria itu.
Musik kembali memenuhi ballroom. Gesekan biola mengalir di antara denting gelas dan percakapan yang mulai hidup lagi. Para pelayan bergerak membawa baki minuman. Tamu-tamu kembali berbaur, seolah perempuan yang beberapa menit lalu meninggalkan panggung hanyalah jeda singkat dalam rangkaian acara yang tetap harus berjalan. Adriano turun dari sisi panggung. Beberapa orang menganggukkan kepala ketika berpapasan dengannya. Ia membalas seperlunya. Langkahnya tak melambat hingga mencapai pintu samping ballroom. Daun pintu terbuka. Suara musik meredup di belakang punggungnya. Koridor menyambut dengan kesunyian yang nyaris utuh. Bunyi sepatunya memantul di lantai marmer. Tok. Tok. Tok. Di ujung lorong, dua daun pintu berdiri saling berhadapan. Ladies. Gentlemen.
Daun pintu ruang rias tetap tertutup. Dengung pendingin ruangan mengisi ruang yang terlalu sunyi untuk disebut tenang. Elena masih berdiri di depan cermin. Jemari kirinya terangkat. Cincin itu masih berada di sana. Tak bergeser. Suara langkah terdengar di koridor. Satu pintu terbuka. Sunyi. Pintu lain. Kembali tertutup. Langkah itu mendekat. Berhenti tepat di depan ruang rias. Gagang pintu bergerak. Daun pintu terbuka. Julian berdiri di ambang. Napasnya belum sepenuhnya teratur, seolah seluruh koridor baru saja dilaluinya tanpa sempat berhenti. Tatapannya langsung menemukan Elena. "Elena." Elena menoleh. Sorot matanya membeku sesaat. "Julian." Tak ada yang bergerak. Pandangan Julian turun pada gaun hitam yang dikenakannya. Naik ke wajah Elena. Berakhir pada cincin yang memantulkan cahaya di jari manisnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Elena nyaris lebih pelan daripada dengung pendingin ruangan. "Kau seharusnya tidak datan
Daun pintu menutup di belakang Elena.Suara tepuk tangan berubah menjadi gema yang tertahan di balik dinding tebal ballroom.Koridor memanjang di bawah deretan lampu dinding. Cahaya keemasan jatuh membentuk garis-garis panjang di atas lantai marmer.Hak sepatunya memecah kesunyian.Tok.Tok.Tok.Tak ada langkah lain.Musik kuartet masih terdengar samar dari balik pintu-pintu kayu yang tertutup rapat.Elena berhenti di depan ruang rias.Tangannya mendorong gagang.Ruangan itu kosong.Pintu kembali menutup.Suara dari luar menghilang.Yang tersisa hanya dengung pendingin ruangan.Ia berdiri di depan wastafel.Pantulan perempuan di cermin ikut memandanginya.Gaun hitam itu tetap jatuh sempurna.Tak ada lipatan yang berubah sejak ia naik ke atas panggung.Rambut yang ditata rapi masih berada di tempatnya.Sebentuk berlian melingkari jari manis tangan kirinya.Tak ada yang bergerak.Kedua telapak tangannya bertumpu di bibir wastafel.Dingin marmer merambat ke ujung jemarinya.Suara itu ke
Pembawa acara tetap mengulurkan mikrofon. Tak satu pun tamu mengalihkan pandangan. Bahkan pelayan yang melintas membawa baki anggur ikut menghentikan langkah, seolah takut bunyi kristal yang beradu akan mengganggu jawaban yang sedang ditunggu seluruh ruangan. Elena menarik napas pelan. Tatapannya menyapu wajah-wajah yang tak dikenalnya. "Masih banyak yang harus kupelajari." Suaranya tenang. Cukup jelas hingga mencapai barisan paling belakang. Beberapa kepala mengangguk. Tepuk tangan tipis terdengar, sopan, lalu mereda dengan sendirinya. Pembawa acara tersenyum. "Jawaban yang rendah hati, Signora." Ia tidak menarik mikrofon. "Kalau begitu... bisa dibilang Anda mulai terbiasa menjadi bagian dari keluarga Moretti?" Elena terdiam sesaat. Pandangan matanya terangkat ke lampu kristal yang menggantung tinggi sebelum kembali kepada pria di depannya. "Belum." Satu kata. Tepuk tangan yang baru saja lahir lenyap begitu saja. Senyum pembawa acara sempat membe
Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d
Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.
Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, suny
Interior mobil itu terasa seperti dunia lain. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena sunyinya—sunyi yang tidak memberi ruang bagi suara untuk hidup. Jok kulit hitam menelan tubuh Elena saat ia duduk. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutus debu, teriakan, dan panti yang baru saja ia ti







