Beranda / Zaman Kuno / Baginda, Tuan Putri Merayumu / Bab 114: Racun Satu Darah

Share

Bab 114: Racun Satu Darah

Penulis: QueenShe
last update Tanggal publikasi: 2026-03-25 10:39:37

Marib sedang menyusun laporan posisi unit ketika Elara masuk ke markas tanpa mengetuk. Ia mendongak, melihat ada yang berbeda pada mimik wajah Elara, membuatnya menghentikan kegiatannya. Mata adiknya sedikit memerah dan masih ada jejak air mata di pipinya.

"Elara," ucapnya tanpa menoleh. "Aku kira kau masih di istana Yasmina."

"Tugasku selesai lebih awal," jawab Elara.

"Ada apa?"

"Hari ini aku melihat Baginda di koridor dekat taman paviliun timur," ucapnya.

"Dan?"

"Dia berdiri di sana. Hanya be
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 276: Peluru Pertama dan Panah Pembalasan

    "Jangan bicara omong kosong hanya untuk memperpanjang nyawamu!" geram Erion, matanya menggelap penuh murka yang membakar."Aku tidak berbohong!" seru Jetmir, menangkis serangan susulan Erion dengan pedangnya sendiri.Denting keras benturan logam bergema memekakkan telinga di dalam aula marmer. Benturan itu begitu kuat hingga percikan api memantul di antara kedua bilah senjata mereka."Tanya pada wanitamu jika kau tidak percaya! Dia mengingat bagaimana rasanya berada di pelukanku, sentuhanku!" Jetmir terus berteriak, wajahnya memerah penuh urat yang menonjol saat menahan beban dorongan pedang Erion. "Dan kau tidak akan pernah bisa memilikinya secara utuh karena jiwanya adalah milik duniaku, dan tubuh yang kau peluk itu bukan miliknya sepenuhnya!""Erion, jangan dengarkan dia! Dia sengaja memancing amarahmu agar kau kehilangan fokus!" teriak Ohmad dari tepi garis pertempuran, mencoba menahan Raja Galee dalam duel satu lawan satu yang mendadak tercipta di sisi kiri aula.Erion tidak mend

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 276: Berhasil Masuk

    "Baginda! Gerbang utara berhasil ditembus!" seru Marib, memacu kudanya di samping Erion. Pedangnya sudah berlumuran darah musuh.Rencana penyerangan yang disusun Erion dan Ohmad berjalan tanpa hambatan besar di luar dugaan mereka. Gerbang kota yang biasanya dijaga ketat, kini runtuh dengan mudah di bawah terjangan kavaleri berat Odissian.Erion tidak menyahut. Matanya lurus menatap menara istana Galee yang menjulang di kejauhan. "Bagaimana dengan sisa pasukan pertahanan kota?""Aneh, Baginda. Mereka berlarian," jawab Marib cepat. "Mereka sama sekali tidak membangun formasi bertahan yang solid. Mereka bertempur seperti orang yang kebingungan."Ohmad yang memimpin sayap kanan ikut mendekat dengan kudanya. "Kurir-kurir yang kita cegat di perbatasan tempo hari benar-benar memutus informasi mereka. Jetmir dan Karel tidak tahu kalau tiga titik pertahanan luar mereka sudah runtuh total. Mereka mengira kita masih tertahan di hutan perbatasan!""Ini keuntungan kita," cetus Erion, mengacungkan

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 275: Alat Baru

    "Bentuk formasi melingkar! Amankan tenda utama!" teriak Marib memberi komando pada pasukan yang mulai panik.Erion langsung bergerak memimpin barisan terdepan. Bersama Marib dan beberapa pengawal elit, mereka menerobos keluar dari tirai tenda dengan pedang terhunus, siap menyambut pertumpahan darah. Bau mesiu samar dan kepulan asap pekat langsung menyengat indra penciuman mereka.Para prajurit segera menyisir area sekitar pagar pembatas dengan tombak dan tameng yang terpasang kokoh. Mereka bersiap menghadapi gelombang pasukan Galee yang mungkin merangsek dari kegelapan malam."Mana musuhnya?! Di mana bajingan-bajingan itu?!" tanya salah seorang komandan regu dengan mata liar mencari sasaran.Erion mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh penjuru mata angin, tetapi anehnya, tidak ada tanda-tanda pergerakan pasukan musuh. Hutan di luar pagar perkemahan tetap sunyi, menyisakan kesunyian yang mencekam. Tidak ada derap kaki kuda lain, tidak ada sorak-sorai provokasi lawan."Lapor, Baginda

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 274: Kedatangan Sang Singa

    Bab 274: Kedatangan Sang SingaDerap kaki kuda Erion mulai seirama dengan detak jantungnya yang berangsur tenang saat netranya menangkap jajaran tenda militer kain kelabu di kejauhan. Panji-panji berlambang singa emas Pervane berkibar gagah. Laju kuda hitamnya perlahan memelan, membiarkan debu-debu jalanan perbatasan mengendap di belakangnya.“Tahan! Siapa di sana?!” seru seorang penjaga di barikade luar, tombaknya terhunus lurus ke depan.“Kau buta, hah?! Lihat panji jubahnya!” bentak prajurit senior di sebelahnya, buru-buru menurunkan senjata rekannya.Memasuki barikade luar, puluhan prajurit Pervane yang sedang berjaga serentak menoleh. Begitu mereka mengenali sosok tegap di atas pelana, jajaran ksatria yang dulunya merupakan prajurit di bawah asuhan Erion itu langsung menegakkan tubuh.“Hormat pada Panglima Tertinggi! Hidup Raja Erion!” teriak sang komandan regu.Tanpa aba-aba, mereka memberikan penghormatan militer tertinggi dengan mengepalkan tangan di dada kiri, lalu segera mem

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 273: Melawan Yasmina

    “Untuk pertama kalinya aku bisa melawanmu, Yasmina,” bisik Yasmin pada dirinya sendiri setelah kepergian Erion.Saat pemakaman Haman, Yasmin memang hampir kalah. Kesadaran asing milik Yasmina mendesak begitu kuat, merongrong dari dalam, ingin mengambil alih raga ini secara utuh demi meraih empati Erion dengan sikap manjanya.Beruntung, Yasmin mengerahkan seluruh fokus dan tenaganya untuk menolak entitas itu hingga Yasmina terpaksa mundur kembali ke kegelapan.“Hampir saja dia egois ingin mengambil empati di keadaanku seperti ini. Dan Karel… dia benar-benar berniat menarikku mundur,” guman Yasmin tertegun di tepi ranjang. Pikirannya mendadak melayang, mengingat kembali mimpi buruk yang dialaminya sebelum sadar sepenuhnya.Dalam mimpi itu, Karel muncul dalam wujudnya yang sebenarnya—bukan sebagai pria di dunia ini, melainkan sosok dari kehidupan lamanya. Karel menarik lengannya dengan kasar, memaksa dan menyeretnya untuk kembali ke dunia asal mereka.Di tengah keputusasaan itu, sebuah b

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 272: Jimat

    "Erion," panggil Yasmin, memecah keheningan di antara mereka. "Apa yang baru saja kau selipkan di balik jirahmu itu?"Yasmin duduk di tepi ranjang, memperhatikan setiap Erion yang tengah memakai jirah. Matanya mengikuti bagaimana jemari kokoh Erion mengancingkan pelindung dada logam, lalu mengencangkan sabuk kulit bertatahkan lambang kerajaan Odissian.Ada semacam ritual bisu yang megah saat seorang raja bersiap menuju medan laga. Saat Erion hendak meraih jubah pertempurannya, pandangan Yasmin menangkap Erion mengambil selembar kertas menyelipkannya di balik lapisan dalam jirahnya, tepat di bagian dada kiri yang paling dekat dengan jantungnya.“Apa itu? Jimat?” tanya lagi penasaran.Erion menghentikan gerakannya sejenak. Ia menoleh ke arah Yasmin, lalu sebuah senyuman tipis namun hangat terukir di wajahnya yang tegas. Ia menepuk bagian dada kirinya yang kini terasa sedikit lebih tebal."Jimat keselamatan." Erion terkekeh pelan."Jimat?" Yasmin menaikkan sebelah alisnya, tidak menyangka

  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 23: Yasmina tetaplah Yasmina

    Erion turun melalui tangga batu yang lembap, setiap langkahnya bergema di lorong sempit menuju ruang bawah tanah istana. Dua penjaga membungkuk saat Erion melewati mereka. Tidak ada yang berbicara.Disana seorang pria duduk terbelenggu di kursi kayu, kepala tertunduk, wajahnya penuh luka bekas puku

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 19: Ternyata Bukan Dia

    Lantai marmer kamar yang dingin terasa menusuk hingga ke tulang, namun Yasmin tidak sanggup diam. Ia berjalan mondar-mandir seperti harimau yang terperangkap dalam sangkar emas. Jemarinya terus meremas kain gaun sutra putihnya yang kini ternoda bercak merah anggur.“Berpikir, Yasmin! berpikir!" bis

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 20: Taman Rahasia

    Upacara penghormatan terakhir untuk Velmire terlihat seperti kompetisi duka, di mana pemenangnya akan ditentukan dari seberapa meyakinkan air mata mereka. Para bangsawan bergantian maju ke peti mati yang dihiasi bunga lili putih. Wajah mereka dibuat tampak paling sedih, walaupun sebenarnya tidak ad

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Baginda, Tuan Putri Merayumu   Bab 11: Kenapa Dia Ada Disini?

    Dua prajurit penjaga menarik rantai besi raksasa, membuat pintu kayu berlapis logam setinggi lima meter itu bergerak membuka lebar. Gerbang besar Istana Pervane terbuka perlahan dengan bunyi gemuruh yang menggelegar.Yasmin yang duduk di dalam tandu merasakan jantungnya berdebar— campuran antara ta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status