LOGINTemen-emen Baginda, sejauh ini gimana pendapat kalian dengan cerita ini? Ditunggu feedback sama ulasannya ya... Makasih :)
“Kau keterlaluan, Erion!” Ohmad membuka pembicaraan dengan penuh ancaman. “Di depan para penjaga, pelayan, kau mendekap, menyentuh Yasmina seolah-olah dia adalah barang rampasan perangmu. Kau sadar apa yang kau lakukan? Kau sedang menghancurkan martabatnya sebagai Putri Pervane!”Ohmad berdiri di balik meja besarnya, kedua tangannya menumpu pada krdua sisi kursinya hingga urat-urat di lengannya menonjol. Ia menatap tajam ke arah Erion yang, dengan segala keangkuhannya, dan menunjukan ia adalah pemilik ruangan itu.Erion yang bersandar dengan angkuh di kursi tamu, menempatkan dirinya seolah dialah penguasa sebenarnya di ruangan itu. Ia mengangkat bahu, jarinya mengetuk-ngetuk pelan sandaran kursi.“Martabat?” Erion mendengus pelan, hampir menyerupai tawa sinis.“Adikmu hampir mati. Jika aku harus memilih antara menjaga martabatnya atau menjaga agar jantungnya tetap berdetak, maka aku akan membakar seluruh buku tata krama Pervane-mu itu sekarang juga demi permaisuriku tetap hidup.”“Ini
Voya sempat melirik ke arah Fatim dan para pelayan lainnya dengan raut wajah yang penuh ketakutan. Matanya bergerak liar, seolah-olah setiap sudut ruangan ini memiliki telinga yang siap mencatat setiap kata yang akan keluar dari bibirnya. Ia meremas ujung gaun pelayanannya, bibirnya memucat, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.“Tuan Putri... hamba...” Voya terbata, suaranya nyaris hilang.Yasmin yang menyadari keraguan besar di mata Voya segera mengalihkan pandangannya pada Fatim dan para pelayan yang berdiri tak jauh dari ranjang. Rasa nyeri di punggungnya ia abaikan demi mendapatkan jawaban yang selama ini terkubur dalam kabut memori Yasmina.“Semua keluar!” perintah Yasmin tegas. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. “Fatim, tinggalkan ramuan itu dan keluar. Aku ingin bicara berdua saja dengan pelayanku.”Fatim membungkuk dalam, ekspresi wajahnya tetap tenang dan tidak terbaca, sangat kontras dengan ketegangan yang menyelimuti Voya. “Bai
Yasmin langsung mengembuskan napas panjang, sesaat setelah semuanya keluar. Ia mencoba merilekskan otot-ototnya yang sempat menegang akibat adu urat saraf antara Erion dan Ohmad. Rasa perih di punggungnya masih berdenyut, tetapi setidaknya kebisingan itu telah lenyap.“Akhirnya tenang juga,” gumam Yasmin sambil memejamkan mata.Ia merasakan kehadiran seseorang yang mendekat ke sisi ranjang. Yasmin perlahan membuka kelopak matanya, mengira itu adalah salah satu pelayan istana yang hendak mengganti kompres. Ketika manik matanya menangkap sosok wanita itu, jantung Yasmin serasa berhenti berdetak sesaat.“Siapa kau?” tanya Yasmin, lebih menyerupai bisikan penuh keterkejutan.Ia terpaku. Wanita di depannya itu membungkuk dan membawa ramuan di atas nampan. Wanita itu memiliki rambut hitam legam yang dipotong sebahu, membingkai wajah yang tampak sangat familiar.“Hamba Fatim, Tuan Putri. Hamba adalah budak dari wilayah Raja Galee yang diselamatkan oleh Baginda Erion di medan perang. Kini ham
Haman melangkah masuk lebih dalam, mengabaikan tatapan Erion dan Ohmad. Mata tua yang tajam dan sarat akan pengalaman hidup terkunci pada sosok wanita yang tengah berbaring miring dalam dekapan protektif Erion.Langkah Haman terhenti tepat di sisi ranjang. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya, menyipitkan mata dengan sorot menyelidik, seolah sedang menembus lapisan kulit hingga ke palung jiwa terdalam.“Kita lihat siapa yang terbangun kali ini?” ucapnya sinis.Wanita itu tidak memalingkan wajah. Meski napasnya masih terasa berat dan rintihan sakit sesekali lolos dari bibirnya, ia mengedip pelan, membalas tatapan Haman.Haman semakin menyipitkan matanya, rahangnya mengeras, lalu kedua sudut bibirnya melengkung sempurna, menciptakan seringai tipis yang sulit diartikan. Matanya melebar penuh kepuasan.“Selamat datang kembali, Jiwa Seberang,” ucap Haman menggema penuh arti.Wanita itu menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang sarat akan ironi meski wajahnya masih sepucat kertas. Ia
Kelopak mata itu bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka perlahan. Cahaya matahari yang menerobos masuk terasa seperti ribuan jarum yang menusuk pupil matanya.Hal pertama yang menyerang kesadarannya bukanlah penglihatan, melainkan hantaman rasa sakit yang begitu dahsyat dari punggung, menjalar hingga ke ulu hati.“Yasmin?” Suara parau Erion memecah keheningan yang mencekam.Wanita itu mengerang, suaranya tertahan di kerongkongan seperti ada beban berat yang menghimpit jalur napasnya. Ia mencoba menggerakkan tubuh, tapi rasa sakit itu memaksanya kembali terhempas ke bantal sutra. Napasnya tersenggal, pendek dan tidak teratur.Erion segera bangkit. Wajahnya yang biasanya dingin dan tak tersentuh kini tampak kacau balau. Ia tidak peduli lagi pada harga dirinya sebagai seorang raja.Diraihnya jemari wanita itu, mengecupnya berkali-kali dengan penuh ketakutan, meski ia bisa merasakan tatapan tajam dari Ohmad yang berada di sisi lain ranjang.“Aku di sini. Jangan banyak bergerak, lukamu ma
“Kenapa kau kembali ke sini?” tanya Yasmina. Suaranya bergetar antara takut dan tidak suka. “Harusnya kau pergi dari sini! Ini bukan tempatmu!”“Kau pikir aku ingin berada di sini? Kau pikir aku menikmati rasa sakit ini?” jawab wanita di depannya sambil tertawa getir. Ia menyentuh dadanya sendiri yang terasa panas membara, tempat pedang Jetmir menembus tubuhnya.Kini dua jiwa dengan wajah yang identik berdiri berhadapan di tengah tebalnya kabut. Keduanya saling mendominasi atas tubuh yang kini terbujur kaku.“Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa terjadi. Setelah kepalaku terasa seperti dihantam batu besar, aku hanya tertidur. Tapi begitu mataku terbuka, yang kulihat adalah ujung pedang menghujam punggungku,” lanjut Yasmin tidak terima.Ia pun melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga napas mereka seolah beradu. “Dan rasa sakit itu milikku sekarang, Yasmina. Aku yang merasakannya, bukan kau.”“Sekarang kau seharusnya pergi! Pergi!” Yasmina memekik, wajahnya pucat pasi.“
Erion turun melalui tangga batu yang lembap, setiap langkahnya bergema di lorong sempit menuju ruang bawah tanah istana. Dua penjaga membungkuk saat Erion melewati mereka. Tidak ada yang berbicara.Disana seorang pria duduk terbelenggu di kursi kayu, kepala tertunduk, wajahnya penuh luka bekas puku
Lantai marmer kamar yang dingin terasa menusuk hingga ke tulang, namun Yasmin tidak sanggup diam. Ia berjalan mondar-mandir seperti harimau yang terperangkap dalam sangkar emas. Jemarinya terus meremas kain gaun sutra putihnya yang kini ternoda bercak merah anggur.“Berpikir, Yasmin! berpikir!" bis
Upacara penghormatan terakhir untuk Velmire terlihat seperti kompetisi duka, di mana pemenangnya akan ditentukan dari seberapa meyakinkan air mata mereka. Para bangsawan bergantian maju ke peti mati yang dihiasi bunga lili putih. Wajah mereka dibuat tampak paling sedih, walaupun sebenarnya tidak ad
Dua prajurit penjaga menarik rantai besi raksasa, membuat pintu kayu berlapis logam setinggi lima meter itu bergerak membuka lebar. Gerbang besar Istana Pervane terbuka perlahan dengan bunyi gemuruh yang menggelegar.Yasmin yang duduk di dalam tandu merasakan jantungnya berdebar— campuran antara ta







