ANMELDEN“Hentikan kegilaan ini sebelum pedang pertama ditarik dari sarungnya!” seru Hasan, suaranya parau namun penuh otoritas.Ketegangan di bengkel persenjataan itu tidak mereda, tapi berpindah tempat ke aula utama kerajaan. Hasan, sang Kepala Dewan Kerajaan yang dikenal karena kekakuannya terhadap tradisi, tidak setuju. Wajahnya yang keriput tampak mengeras, setelah Ohmad menyampaikan ide Yasmin, dan meminta pendapatnya.“Kau menentang perlindungan rakyatmu sendiri, Hasan?” tanya Haman meremehkan, menyandarkan tubuhnya pada meja besar di tengah ruangan.“Aku menentang penghancuran moralitas Pervane!” balas Hasan sengit.Ia menatap Ohmad dengan mata memohon. “Yang Mulia, menyerang tanpa provokasi adalah tindakan pengecut. Kita akan dicatat sebagai penjahat perang. Sejarah akan meludahi nama Pervane jika kita memulai pertumpahan darah ini.”Yasmin melangkah maju, memecah konfrontasi antara kedua pria tua itu. “Paman Hasan, tolong dengarkan aku. Ini bukan tentang menjadi pengecut atau pahlaw
“Kembalilah ke paviliun. Tempat ini bukan lingkungan yang nyaman untukmu,” ujar Ohmad dengan nada protektif yang khas.“Aku lebih suka berada disini, daripada hanya duduk tidak jelas di istana,” jawab Yasmin yang kini mengikuti langkah tegap Raja Ohmad menuju area bengkel persenjataan di sayap barat istana.Ia sengaja datang kesini, karena Yasmin tidak bisa diam saja. Menunggu di dalam paviliun yang mewah hanya membuatnya gila oleh pikiran buruk. Rasa gelisah yang merayap di dadanya sejak keberangkatan Erion, bukan hanya kerinduan, melainkan firasat buruk yang terus membayangi jiwanya.“Produksi harus ditingkatkan dua kali lipat dalam tiga hari ini,” titah Ohmad kepada kepala pengrajin saat ia dan Yasmin mengecek besi yang di tempa martil. “Pastikan setiap ujung tombak cukup tajam untuk menembus zirah terkuat sekalipun.”Mata Yasmin yang cerdas mengamati deretan busur silang dan tumpukan pelindung dada yang sedang dikerjakan. Ia teringat akan belati kecil pemberian Erion yang kini ter
“Putra Sang Singa telah kembali!” teriak salah satu tetua desa parau, ketika melihat kuda-kuda pasukan Odissian memasuki perkampungan kecil di kaki bukit mulai terlihat menembus kabut malam.Desa itu tampak sunyi, dengan rumah-rumah kayu sederhana yang sebagian besar jendelanya tertutup rapat, penduduknya telah lama hidup dalam ketakutan akan kegelapan hutan.Erion tidak menyahut. Ia menarik tali kekang kudanya, membiarkan matanya menyapu sekeliling dengan kewaspadaan yang tidak pernah luntur.“Itu perkampungan yang hamba maksud, Baginda,” ucap Marib sambil menunjuk ke arah pemukiman yang dikelilingi pagar kayu runcing. “Penduduk di sini adalah veteran perang yang masih setia pada mendiang Baginda terdahulu.”Begitu rombongan besar semakin masuk ke area pemukiman, beberapa pria paruh baya keluar dari rumahnya, dan bersujud di atas tanah.“Hormat kami, Baginda,” seru mereka serempak.Erion tersenyum tipis, lalu melompat turun dari kuda. Tangannya menyerahkan tali kekang kudanya dapa pr
Anak panah yang tajam itu melesat menuju dada Erion. Kemampuan yang telah terasah selama dua puluh tahun di medan perang mengambil alih kendali tubuh Erion. Sambil menarik tali kekang kuda dengan satu tangan untuk menyeimbangkan posisi, tangan kanannya mencabut pedang dari sarungnya secepat kilat.Trang! Logam beradu logam. Mata pedang Erion menepis anak panah itu hingga terpental ke tanah.“Baginda!” teriak Marib menggelegar di antara ringkikan kuda yang panik. “Bentuk barisan! Lindungi Baginda!”.“Jangan khawatirkan aku, Marib! Jaga barisanmu dan pastikan tidak ada celah bagi mereka!” perintah Erion, sementara matanya yang tajam menyapu rimbunnya pepohonan di sisi jalan, mencari titik pergerakan lawan.Dari balik semak-semak dan pepohonan besar, puluhan pria berpakaian lusuh dan bersenjata lengkap melompat keluar. Mereka tidak datang dari satu arah, melainkan mengepung seribu prajurit Odissian itu dari berbagai sisi jalan yang sempit.“Ternyata dugaanmu benar, Marib. Hutan ini meman
“Baginda, kita harus beristirahat sejenak,” lapor Marib, yang memacu kudanya sedikit lebih dekat ke sisi Erion.Wajah sang panglima tampak muram, kelelahan. “Kita sudah menempuh sepertiga perjalanan tanpa henti. Kuda-kuda mulai letih, dan beberapa mil di depan adalah area rawan yang sering menjadi sarang perampok. Hamba sarankan kita berhenti sejenak untuk memulihkan tenaga pasukan.”Erion bahkan tidak menoleh. Rahangnya mengeras. “Tidak ada istirahat, Marib. Kita tetap berjalan.”“Tapi kuda-kuda ini—”“Berikan mereka air saat berjalan,” potong Erion tajam. “Jangan berdebat, Marib.”“Tapi Baginda, risiko penyergapan di hutan itu sangat tinggi jika kita masuk dalam keadaan lelah.” Marib masih mencoba memberi argumen logis.“Kita akan beristirahat di perkampungan perbatasan,” sahut Erion tegas, tidak terbantah. “Di sana lebih aman dengan penduduk yang setia pada panji Odissian. Tenang saja, aku tidak akan membiarkan pasukan kita menjadi sasaran empuk para perampok. Terus maju!”Marib la
"Erion," bisik Yasmin, suaranya bergetar karena terkejut saat melihat sosok pria itu melangkah masuk ke dalam paviliunnya. "Ada apa? Kenapa kau kemari di jam seperti ini?"Di dalam ruangan, suasana terasa mencekam dan kaku. Para dayang tertunduk di sudut, sementara dua prajurit Pervane berdiri tegak dengan tangan di atas hulu pedang. Mereka adalah mata dan telinga Ohmad, memastikan tidak ada satu inci pun kontak fisik yang melanggar titah sang raja.Erion berhenti tepat dua langkah di depan Yasmin. Ia menjaga jarak, meski matanya menatap Yasmin dengan sorot yang mampu membakar keduanya. "Aku harus pergi, Yasmin. Fajar ini juga."Yasmin tersentak. Jemarinya meremas kain gaun tidurnya. "Pergi kemana? Apa Jetmir dan Raja Galee sudah mulai bergerak di perbatasan?""Bukan Jetmir yang menyerang secara langsung, melainkan kekacauan di rumahku sendiri," jawab Erion pelan tapi mengandung kemarahan di dalamnya. "Odissian sedang terbakar dari dalam. Pencurian, penjarahan, dan unjuk rasa besar-be
Erion turun melalui tangga batu yang lembap, setiap langkahnya bergema di lorong sempit menuju ruang bawah tanah istana. Dua penjaga membungkuk saat Erion melewati mereka. Tidak ada yang berbicara.Disana seorang pria duduk terbelenggu di kursi kayu, kepala tertunduk, wajahnya penuh luka bekas puku
Lantai marmer kamar yang dingin terasa menusuk hingga ke tulang, namun Yasmin tidak sanggup diam. Ia berjalan mondar-mandir seperti harimau yang terperangkap dalam sangkar emas. Jemarinya terus meremas kain gaun sutra putihnya yang kini ternoda bercak merah anggur.“Berpikir, Yasmin! berpikir!" bis
Upacara penghormatan terakhir untuk Velmire terlihat seperti kompetisi duka, di mana pemenangnya akan ditentukan dari seberapa meyakinkan air mata mereka. Para bangsawan bergantian maju ke peti mati yang dihiasi bunga lili putih. Wajah mereka dibuat tampak paling sedih, walaupun sebenarnya tidak ad
Dua prajurit penjaga menarik rantai besi raksasa, membuat pintu kayu berlapis logam setinggi lima meter itu bergerak membuka lebar. Gerbang besar Istana Pervane terbuka perlahan dengan bunyi gemuruh yang menggelegar.Yasmin yang duduk di dalam tandu merasakan jantungnya berdebar— campuran antara ta







