“Tuan Putri, Anda benar-benar cantik,” bisik Voya, matanya berkaca-kaca saat memasangkan tiara perak di rambut Yasmin. “Baginda Erion pasti tidak akan bisa memalingkan wajahnya.”Yasmin tersenyum, menatap pantulan dirinya di cermin. “Terima kasih, Voya, Fatim.”Hari ini sebelum fajar baru menyingsing ibu kota Pervane sudah bergemuruh oleh sukacita. Sesuai perintah Ohmad, seluruh pelataran agung istana telah disulap menjadi altar terbuka yang luar biasa megah.Ribuan rakyat berkumpul di balik pagar pembatas, bersorak-sorai merayakan pernikahan sang putri yang sempat dikabarkan hilang di perbatasan.Yasmin berdiri di dalam paviliunnya, membiarkan Fatim dan Voya menyelesaikan riasan terakhirnya. Gaun sutra putih gading berlapis brokat emas—hantaran dari Odissian—melekat sempurna di tubuhnya.“Akhirnya Anda akan menjadi permaisuri Baginda,” ucap Voya berderai air mata.Saat genderang istana bertalu, Yasmin melangkah keluar. Ohmad sudah menunggunya di ujung koridor dengan pakaian kebesaran
Baca selengkapnya