Willa pindah duduk di depan ketika Kalla turun. Gadis itu melambaikan tangan kepada Kalla saat sang kakak melajukan kendaraannya lagi. Napasnya berembus kencang saat dia kembali duduk dengan benar. “Aku suka banget sama Kak Kalla,” desahnya, melirik singkat Wima yang sudah kembali fokus menyetir. “Cantik, humble, kelihatannya pinter. Aku yakin kalau kakak kenalin ke ibu dan nenek, mereka pasti suka.”Selagi memperhatikan jalan, Wima tersenyum. Kalau penilaian sang adik sudah seperti itu, maka penilaian keluarga lain kurang lebih bakal sama. Tapi di sini Wima merasa kurang beruntung. Dia terlambat memikat hati perempuan unik itu. “Begitu?” Di sisinya Willa berdecak sebal. “Tunggu apa lagi sih, Kak. Gercep dong. Nggak mungkin Kak Kalla nggak suka sama Kak Wima. Ibarat kata, Kak Wima tuh paket komplit. Tampan, mapan, matang, lajang. Cewek mana yang nggak tertarik sama kakakku yang paling tamvan sejagat ini?”Wima mendengus. Pujian sang adik terlalu berlebihan. Pasti ada maunya. “Kam
Read more