Sejak terakhir obrolan tentang impian melanjutkan sekolah ke Jepang, Reyga belum mau bicara. Dalam hal ini Kalla mencoba mengalah, berusaha memulai lebih dulu. Tapi semua usahanya zonk. Reyga masih bungkam, dan tetap mengabaikan eksistensinya. Perang dingin itu ternyata dirasakan Kael. Anak itu mengamati dua orang dewasa yang membersamainya dengan pandangan polos. “Kakak berantem sama papa?” tanya Kael ketika sang papa lebih dulu pamit. Padahal biasanya mereka akan berangkat bersama. “Uhmm, enggak kok. Kita cuma lagi nggak mau banyak bicara,” sahut Kalla tersenyum kecut. Dia menggapai tas Kael dan membuang resahnya sejenak. “Ayo, waktunya kita let's go!” Jangankan Kael, Kalla pun merasa tak nyaman dengan situasi ini. Tidak ada yang bisa Kalla lakukan selain menunggu emosi Reyga reda. “Kael…,” panggil Kalla menatap pintu besi yang membawanya dan Kael turun ke lobi. “Ya?” “Kalau kakak mau sekolah lagi. Menurut kamu gimana?” Anak itu tercenung sesaat, sebelum mendongak, mena
اقرأ المزيد