“Maaf.” Itu kata pertama yang Reyga ucapkan begitu berhadapan langsung dengan Kalla lagi. Dia lantas bergerak pelan, duduk di sisi wanita itu. “Aku tadi nggak bermaksud bicara kasar atau apapun. Aku cuma—”“Cemburu?”Kali ini Reyga tidak mengelak. Dia mengangguk. “Ya, aku cemburu.” Lelaki itu memejamkan mata sebentar, sebelum meraih tangan Kalla. “Aku nggak mau kita ribut. Maaf ya.” Bahu Kalla naik seiring helaan napasnya yang keluar. “Maaf juga. Aku juga salah. Nggak seharusnya aku minta tolong K—Wima, buat nganter ke sini.” Senyum Reyga terulas, begitu pun Kalla. Keduanya saling tatap sebelum bergerak mendekat, hendak berpelukan. Namun sebelum berhasil saling merapat, Moya dengan sigap mengurai kedekatan mereka berdua. Persis wasit pertandingan tinju. “Tahan, tahan, ini nikahan orang, Gaes. Bukan nikahan kalian.” Kalla kontan berdecak dan memutar bola mata, sementara Reyga terkekeh dengan wajah memerah. “Gitu dong! Kalau pada baik gini kan enak lihatnya. Jangan adu urat Mulu.
Zuletzt aktualisiert : 2026-03-30 Mehr lesen