로그인Seorang pria tengah minum sendiri di sebuah bar. Tidak ada yang bersamanya karena teman-temannya kini sudah sibuk dengan dunia masing-masing.Alvin memandang gelasnya yang sudah kosong. “Isaac, bocah kecil itu sudah memikirkan perempuan sampai diajak minum tidak mau.”“Alvin,” panggil seseorang.Alvin menoleh kemudian mengernyit dan setelah tahu langsung memasang senyumnya.“Halo, kak.” Alvin tersenyum pada Cassie yang berada di hadapannya.“Kenapa kau di sini sendiri?” tanya Cassie menatap sekitar. “Kau patah hati?” guraunya.Alvin berdiri kemudian menggeleng. “Tidak, aku hanya bosan dan tidak memiliki teman untuk aku ajak minum.”“Kak Cassie sendiri?” tanya Alvin.“Aku habis bertemu dengan temanku,” ucap Cassie, kemudian menatap Alvin karena menurutnya menyedihkan.“Kau sudah makan? Mau makan bersamaku?” tanya Cassie.Alvin mengangguk. “Hm, aku juga lapar. Mau ke bawah? Di sana ada restoran.”Cassie mengeleng. “Tidak, aku punya tempat rekomendasi untuk makan. Ayo ikut denganku.”Alv
“Sayang kamu kenapa sibuk sekali?” Martin memeluk pinggang Serena dari belakang. menatap layar ponsel Serena yang masih menyala.“Apa? Kamu chat dengan Isaac?” Mata Martin langsung melotot melihat aplilkasi pesan teks di ponsel Serena.Tertulis jelas di sana nama ISAAC!“Apa yang kalian bicarakan.” Martin langsung menunduk dan melihat lebih dekat apa yang dibicarakan mereka berdua.“Aku hanya menyuruhnya menjemput Ava,” jawab Serena menunjukkan isi pesannya dengan Isaac.“Kenapa?” tanya Martin mengambil ponsel Serena, kemudian membacanya sampai akhirnya.“Ava menjenguk pria itu,” lirih Martin akhirnya mengerti.“Aku menyuruh Miko, tapi Miko tidak bisa jadi orang terakhir yang bisa aku mintai bantuan hanyalah Isaac,” lanjut Serena kemudian mengambil ponselnya kembali.“Tapi bukankah seharusnya itu bagus? Ava dan Isaac bisa bersama.” Marti menganggukan kepalanya dengan santai.“Tidak seperti bayangan kamu. Hubungan mereka rumit dan aku terpaksa meminta bantuan Isaac,” jelas Serena.“Tid
“Kau ingin memberiku uang?” tanya Gunawan yang berada di balik kaca.Sedangkan di hadapannya adalah putrinya yang ia telantarkan. Mereka dipisahkan oleh tembok kaca yang begitu kokoh dan tebal.Dan mereka hanya bisa berhadapan dan saling berbicara tanpa bisa menyentuh.“Berapa?” tanya Ava berusaha tenang.Gunawan tertawa pelan. “Kalau kau ingin berbakti padaku berikan yang banya, karena kau aku bangkrut dan berada di sini.”“Kau pantas mendapatkannya,” ucap Ava. “Aku ke sini hanya ingin melihatmu menderita.”“Dasar kurang ajar!” umpat Gunawan terlihat marah dengan garis wajah yang sudah tua itu menegas.“Beri aku uang!” teriaknya mulai hilang kendali.Ava tertawa pelan. “Andai aku bisa memilih, aku lebih baik tidak punya ayah daripada punya ayah sepertimu. Dan jika aku bisa memilih aku lebih memilih tidak pernah bertemu denganmu.”“Kau benar-benar kurang ajar,” desis Gunawan mulai tidak terkendali mendengar ucapan Ava.“Aku sangat senang kau bangkrut dan dipenjara. Aku berharap kau me
“Halo,” sapa Serena ketika masuk ke dalam kantornya.“Bu Serena!” Ava mendekat dan memeluk Serena dengan ceria.Sedangkan Liana, pengacara yang menggantikannya segera berdiri. “Selamat datang dan kembali ke kantormu.”Liana merupakan kenalan Martin.Karir Liana cemerlang di luar negeri dan kembali ke negeri ini ingin mendirikan kantor hukum sendiri. Tapi Martin segera menariknya untuk menggantikan Serena sementara.Dan rencananya ketika Serena sudah benar-benar sembuh, mereka akan mendirikan firma hukum sendiri.Liana memeluk Serena. “Maaf belum bisa menjengukmu sampai kau di sini,” ucapnya.Serena menggeleng. “Tidak masalah. Aku baik-baik saja sekarang.”“Ada yang ingin aku bicarakan, rencananya aku akan cuti bulan depan selama seminggu karena aku ingin mengantar anakku sekolah di sana,” ucap Liana.“Ya,” balas Serena mengangguk. “Kak Liana bisa pergi. Dia sudah kuliah?”“No, dia dapat beasiswa highschool di sana. Jadi aku dan suamiku ingin mengantarnya dan memastikan lingkungannya d
2 bulan berlalu.Serena memutuskan untuk pergi ke kantor setelah sekian lama, tujuannya bukan untuk sepenuhnya kembali bekerja.Ia ingin melihat perkembangan kantornya secara langsung. Dan minggu depan mereka akan pindah ke gedung baru.Omset kantornya melesat, perkembang jauh lebih baik dan merekrut lebih banyak pengacara.Serena mengernyit pelan melihat beberapa orang berjaga di depan kantornya.“Bu Serena,” panggil Miko yang akhirnya mendekat. Dengan cengirannya yang khas ia tersenyum.“Ada apa ini? kenapa banyak orang yang berjaga di depan seperti ini?” tanya Serena menatap tiga orang yang berjaga di depan kantornya.“Martin tidak bilang apa-apa,” lirih Serena. “Seharusnya jika penjagaan dari Martin, mereka akan konfirmasi dulu padaku.”Senyum Miko luntur kemudian pandangan mereka beralih pada mobil yang baru saja berhenti.Keluarlah seorang pria paruh baya dengan tubuh yang tegap. Memakai setelan kemeja yang rapi.“Miko,” panggil bapak itu.“Iya, pa.” Miko mendekat, kemudian mena
Serena dan Martin turun bersama. Lalu Serena terdiam di tempat seperti memastikan sesuatu pada dua orang yang sekarang berada di hadapannya.Ava terkekeh pelan, kemudian mendekat dan memeluk Serena. “Good morning, bu Serena.”Serena menggeleng pelan. “Sudah terlalu siang, Ava.”Ava mundur sembari tertawa, kemudian meraih kantong belanjaan yang di bawa oleh Isaac.“Dari kami,” ucap Ava semakin menambah gelengan pada kepala Serena.“Kami?” ulang Serena memastikan.“Iya, kami, kak.” Isaac menjawab sembari tersenyum dengan sangat manis. “Kami datang berdua untuk menjenguk kalian.”Martin memandang Isaac, pemandangan yang aneh. Tapi ia segera merangkul bahu Isaac.“Ayo kalian pasti ingin bertemu dengan Mathias.” Martin mengajak mereka untuk pergi ke kamar Mathias.“Katakan apa yang terjadi?” tanya Serena mendesak Ava. “Kamu berkencan dengan Isaac?”Seperti kakak yang ingin tahu hubungan kencan adiknya. Serena terdengar khawatir namun juga protektif.“Belum sejauh itu,” balas Ava. “Karena s
Mulut Miko benar-benar ember, seember bak yang jebol. Dan Serena harus melakban mulut Miko supaya tidak menceritakan apa yang sudah disepakati mana yang tidak boleh dibahas.Tetapi Miko hampir menceritakan kejadian di klub pada Martin. Namun Serena bergerak dengan cepat menginjak kaki Miko di bawah
Martin mengusap rambutnya pelan, beberapa jam yang lalu rambutnya ditarik Serena dengan sangat kuat sebagai pelampiasan. Dan selain kulit kepalanya sakit, kepalanya juga terasa berat.Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan waktunya untuk beristirahat. Martin akan pergi ke kantor Serena untuk maka
17++“Kakimu sakit?” ulang Martin.Sedari tadi Serena menahan kakinya yang sakit, karena sepertinya benar-benar terkilir saat hampir terjatuh tadi. Dan Serena menahannya sampai dansa dengan Martin selesai.Kakinya terasa begitu sakit saat digerakkan, hingga ia meminta Martin untuk menggendongnya.Ma
The Bridgerton, sebuah novel yang menceritakan kisah cinta keluarga bangsawan Inggris di awal abad ke-19. Serena sangat menyukai novelnya bahkan sampai series filmnya. Namun, berkali-kali menonton film The Bridgerton tidak otomatis membuatnya bisa berdansa bak bangsawan Inggris.“Aku tidak bisa, Ma







