تسجيل الدخول“Dia di usir, dia sekarang sedang berjalan sembari menangis,” ucapan seseorang dari telepon.Gunawan tersenyum puas. “Bagus, aku yakin mereka tidak akan bisa menututku,” ucapnya.Kemudian memainkan rokok yang berada di sela jarinya. “Berani-beraninya si bajiingan itu mengumpulkan bukti,” lirihnya. “Cari bajingan itu dan serahkan padaku.”“Baik, pak!” ucap seseorang di balik telepon.Gunawan tersenyum dengan penuh kemenangan. Lantas ia menyalakan televisi yang menampilkan seorang perempuan bergumul dengan pria.“Aku butuh perempuan cantik,” ucapnya kemudian berdiri.Lantas keluar dari ruangannya.Menatap sekitar dan melihat satu seorang petugas kebersihan yang sibuk mematikan lampu.Bibirnya yang keriput itu mulai tersenyum dengan senang.Wanita yang tidak terlalu tua, sangat pas, dengan tubuh yang masih bagus. Seketika, air liur Gunawan terasa semakin penuh di dalam mulutnya.Lantas ia buru-buru mendekat.“Permisi, kamu bisa ke ruangan saya? Di sana sedikit berantakan,” ucapnya pada p
“Untuk apa memanggil saya?” tanya seorang perempuan pada seorang pria paruh baya di hadapannya.“Ava, kamu juga anakku. Sudah sepantasnya aku memanggilmu. Bagaimana kabar ibumu?” tanya Gunawan, pemilik dari Firma hukum GAP (Gunawan and Pantners).Ava mengepalkan tangannya di sisi kanan dan kiri. “Sekian lama anda baru menyadari saya anak anda?”Gunawan tersenyum, kemudian bangkit dari bangku kerjanya.Lalu mendekati putrinya yang ternyata sudah tumbuh menjadi perempuan yang cantik.“Kau persis seperti ibumu,” ucap Gunawan.Ava berdecih pelan, kemudian memandang ruang kerja Gunawan yang benar-benar mewah.Apa gunanya menjadi anak Gunawan dari pemilik firma hukum besar yang menaungi banyak kasus. Karena dirinya hanyalah anak haram yang tidak diakui.Sepintar apapun dan sebaik apapun tidak akan dianggap. Karena Gunawan akan memprioritaskan kakaknya, Dina untuk bekerja dan akhirnya meneruskan firma hukum ini.“Kenapa berhenti kuliah? Uang yang aku berikan kurang?” tanya Gunawan dengan per
“Sayang flashdisknya mana? Aku akan menyerahkannya pada detektif.” Martin menatap pantulan dirinya di depan cermin.Serena mengernyit pelan. “Tunggu.”Kemudian pergi ke ruang ganti, lalu memungut pakaiannya semalam.Lalu merogoh kantongnya dan mencari flashdisk semalam. “Sayang tidak ada!”“Benarkah?” Martin mendekat kemudian menyentuh bahu istrinya. “Mungkin kamu terjatuh saat kamu ke kantor.”Serena mengangguk. “Aku akan mencarinya.”“Aku tidak bisa ikut mencari karena ada rapat,” balas Martin. “Kamu bisa melakukannya?”“Aku akan langsung mengirimkannya nanti,” balas Serena.Dan akhirnya Serena pergi ke kantor dengan bergegas. Ia sungguh khawatir kalau flashdisk tersebut hilang.Ada banyak file yang belum dipindahkan, sebagian kecil sudah dipindahkan Martin ke ponsel namun tidak masih ada banyak yang belum.Serena menunduk dan melihat ke bawah kemudian mengambil flashdisk itu dengan lega.Tadi malam ia kembali ke kantor karena mengambil berkas. Berkas yang harus ia pelajari.Itulah
“Aku ingin balas dendam pada mereka,” ucap Roni.Seorang pria yang menggunakan hoddie hitam dengan bawahan jeans berwarna biru.Serena mengenalnya karena mereka pernah sama-sama bekerja di firma hukum itu.Hanya berteman ala kadarnya, tidak dekat dan jarang bertegur sapa.Tapi yang Serena dengar, setelah ia dipecat, Roni masuk ke devisinya dan menggantikannya.“Kau masih menjadi pengacara?” tanya Serena memandang penampilan Roni yang jauh dari kata rapi.Karena rapi adalah identik dengan profesi pengacara. “Sepertinya tidak.”“Aku juga dipecat sepertimu,” ucap Roni. “Hidupku hancur setelah keluar dari sana, dan seperti yang kau lihat. Aku tidak bekerja di bidang hukum lagi.”Serena mengernyit pelan. “Berarti mereka juga memblacklistmu?”Roni mengangguk tenang. “Seperti itu. Tapi tidak keluar dengan tangan kosong sepertimu. Aku mengumpulkan bukti kecurangan mereka. Selama ini aku menunggu waktu, aku tidak ingin bertindak gegabah.”“Sampai akhirnya aku mendengarmu, Serena Jane, istri Ma
“Aku sudah berpikir, aku tidak bisa diam saja. Aku harus mengajukan laporan pada mereka,” ucap Serena sembari memasangkan dasi di leher Martin.“Tidak perlu, kamu tidak perlu muncul di publik,” jawab Martin menolak ide Serena.“Aku tidak bisa, aku harus muncul. Mereka yang merundungku seharusnya malu,” ucap Serena. “Bukan aku yang bersembunyi. Bagaimanapun aku sudah berpikir,” lanjutnya.Martin kemudian menghela napas dan mengangguk. “Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin.”Serena berjinjit dan mengecup bibir suaminya pelan. “I love you,” ucapnya.“Aku mencaintaimu juga!” balas Martin setengah berteriak.Serena menepuk pelan dada suaminya itu, kemudian berjalan lebih dulu dan meninggalkannya.“Tunggu aku istriku!” Martin mengejar langkah Serena.Pagi yang menyenangkan, karena setelahnya mereka harus bekerja di kantor masing-masing.Lalu akan bertemu saat makan siang, karena Martin tidak sanggup makan tanpa istrinya.Ia selalu datang ke kantor Serena sembari membawa banyak makanan,
“Apa ini?” tanya ayah Bela dengan tatapan yang begitu tajam pada Jason.Lalu pandangannya mengintai dari atas hingga bawah dan berhenti pada wajah Jason yang merah padam.“Apa kalian—” menunjuk putrinya dan Jason bergantian. “Kalian sudah sering melakukan hal seperti ini?” tanyanya.“Se-seperti ini apa maksud kalian?” tanya Bela benar-benar kepayahan. Kemudian menggeleng pelan. “Kenapa kalian ke sini malam-malam. Bepergian malam hari tidak bagus untuk kesehatan lansia seperti kalian!”Ibu Bela tersenyum, kemudian berdecih pelan. “Dasar tukang mengalihkan pembicaraan.”Kemudian menyodorkan tas belanjaan yang berisi entah apa tapi sangat berat dan membuat Bela kesusahan.“Akh!”Tapi Jason buru-buru membantu Bela untuk mengangkatnya.“Kami yang seharusnya bertanya pada kalian, kenapa Jason tidak pulang?” tanya ibu Bela yang langsung masuk ke dalam Apartemen.Diikuti oleh ayah Bela yang langsung masuk saja ke rumah anaknya.Bela menyenggol Jason diam-diam. “Cepat pergi,” ucapnya.Jason me
Biasanya setelah melakukan aktivitas panjang, Serena akan memenuhi mobil Martin dengan dengkuran halusnya. Tetapi hari ini berbeda, Serena memiliki banyak suatu hal yang harus dipikirkan.“Kau memikirkan permintaanku tadi?” tanya Martin menoleh ke samping sebentar. “Tenang saja aku akan memberimu w
“Ta-tapi ini urusanku, Martin.” Serena segera menarik kerah leher kemeja Martin, kemudian masuk ke dalam tangga darurat. Meski Martin memiliki tenaga yang jauh lebih kuat dibanding Serena, tetapi pergerakan Serena yang cepat itu seakan melumpuhkan perlawanan Martin. Martin pasrah dan tidak sempat
“Apa katamu?” Serena melebarkan matanya dan mengira telinganya mungkin salah mendengar.“Tidak.” Jason terkekeh lalu semakin memeluk lengan Martin dan menyandarkan kepalanya di sana.“Yang terakhir coba katakan lagi.” Serena mendesak Jason.Tapi Jason memejamkan mata dan memilih untuk membaringkan
Ketika mendapatkan panggilan dari Martin, Serena langsung mengangkatnya. Meski bukan suara Martin yang pertama kali ia dengar, tetapi Serena mendengarkan suara Jason sampai selesai.Jason bilang Martin terjatuh di pacuan kuda dan kakinya sakit. Tanpa babibu lagi, Serena pergi meninggalkan Bela yang







