'Beraninya dia mengancamku,' gumamnya dalam hati, wajahnya penuh amarah. Marvin mencengkeram ponselnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya liar mengedar ke sekeliling kasir, menyisir setiap sudut supermarket dengan tatapan waspada yang tajam. Namun, sosok Lenika benar-benar telah lenyap di balik kerumunan pengunjung. "Marvin? Kenapa melamun? Itu kasirnya sudah memanggil kita, cepat bayar belanjaannya setelah itu kita pulang," ucap Alina lembut, menepuk pelan lengan Marvin yang tegang. Marvin tersentak, cepat-cepat memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku sebelum Alina sempat melirik layarnya. Ia memaksakan senyum, meski senyuman itu sama sekali tidak mencapai matanya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang. "Ah, iya, Sayang. Maaf, aku hanya... memikirkan sesuatu saja," kilah Marvin gugup, segera maju untuk meletakkan barang belanjaan ke meja kasir lalu membayarnya. "Jangan terlalu banyak pikiran, Sayang. Nanti kau cepat tua," canda Alina dengan tersenyum ke arah
Read more