Share

Bab 116 Pembalasan

Author: Rose_roshella
last update publish date: 2026-09-07 20:53:34

"Kita harus mencari keberadaan Suli. Jangan sampai dia datang kembali dan mencelakai Alina."

Marvin menyapu pandangannya ke sekeliling lorong rumah sakit yang sepi. Rahangnya mengeras, mengepal erat jemarinya hingga memutih. Amarah di dalam dadanya sudah berada di puncaknya.

"Tuan! Saya sudah berhasil melacak lokasi terakhir sinyal telepon Suli!" seru Leo yang berlari mendekat dengan napas memburu.

"Di mana bajingan itu berada?!" tembak Marvin dingin.

"Sinyalnya terdeteksi di area pabrik teksti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 139 Obsesi Marvin

    "Apa yang kau katakan, Alina? Coba katakan lagi!" bentak Marvin dengan nada penuh amarah."Ceraikan aku, Marvin! Apa perlu aku ulang kataku berkali-kali?" balas Alina dengan tegas.Cengkeraman tangan Marvin di jemari Alina mendadak melonggar. Kata 'ceraikan' yang keluar dari bibir istrinya terasa menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau. Ia benar-benar bingung saat itu."T-tidak... Tidak, Alina. Tolong jangan minta ini," bisik Marvin menggeleng pelan, matanya memerah dan berkaca-kaca. "Minta apa saja padaku... Siksa aku, pukul aku, tapi jangan minta perceraian! Aku mohon kepada mu, Alina.""Lalu kau mau aku terus terkurung di sini? Kau ingin aku terus merasakan sakit hati kepadamu, Marvin?!" sentak Alina, menepis kasar tangan Marvin hingga terlepas."Tidak Alina. Mana mungkin aku menginginkan itu.""Lantas apa? Apa aku harus memendam rasa sakit melihat kau dan wanita itu terus bayang-bayangi hidupku?!""Aku sudah membereskan nya, Alina! Kau lihat sendiri di vid

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 138 Klarifikasi

    "A-apa maksud mu, Marvin? Kenapa kau marah?" gagap Lenika, menyapu air mata bohongnya seraya menatap Marvin dengan tubuh gemetar. "Bayi ini anak mu! Kau tahu sendiri malam itu kita__""Malam itu aku sama sekali tidak menyentuh mu, Lenika! Kau jangan berbohong dan mengarang cerita," potong Marvin dengan bentakan menggelegar.Ia berbalik menghadap puluhan kamera wartawan yang masih menyala, mengabaikan kilatan blitz yang saling bersahutan."Dengarkan aku baik-baik, kalian semua! Aku ingin mengklarifikasi perihal anak yang dikandung oleh Lenika!" seru Marvin tajam, suaranya terdengar lantang menembus keheningan venue. "Anak yang dikandung Lenika adalah anak dari almarhum sahabatku, ayah biologis anak yang dikandung oleh Lenika. Dia meninggal dunia dalam sebuah pertempuran sebelum sempat menikahi Lenika! Nama belakang yang ku gunakan semata-mata bentuk tanggung jawab finansial atas peninggalan sahabatku, bukan karena aku ayah biologisnya!"Suasana konferensi pers langsung gempar. Bisik-bi

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 137 Membongkar Kebohongan Lenika

    "Benar, Tuan Vance! Nona Lenika sudah mengumumkan kehamilannya pada wartawan," sahut Leo dengan pelipis meneteskan keringat dingin. "Di luar gedung media, berita ini sudah menjadi headline nomor satu! Tuan sebaiknya meluruskan berita ini agar Nyonya Alina tidak salah paham."Dada Marvin berombak naik turun. Rahangnya mengetat keras hingga urat lehernya menonjol, sementara tangannya yang terbalut perban mengepal kuat hingga noda darah kembali merembes di kain kassa."Beraninya Lenika melakukan itu!" raung Marvin murka. "Di mana Lenika sekarang, Leo? Katakan kepadaku!""Nona Lenika masih berada di lokasi konferensi pers, Tuan. Para wartawan juga mulai memaksa masuk ke gerbang utama rumah ini untuk meminta klarifikasi langsung dari Anda dan Nyonya Alina mengenai statement Nona Alina tentang kehamilannya," lapor Leo panik.Alina tertawa sumbang di sudut kamar. Suara tawa dingin itu memecah amarah Marvin, membuat pria itu mendadak menoleh dengan raut wajah pasi."Alina... Aku akan mengurus

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 136 Konferensi pers

    "Kau pikir pura-pura terlelap bisa membatalkan semua kata-kata mu kemarin, Marvin? Jangan pura-pura lagi, Marvin." ucap Alina dingin, langsung berbalik dan duduk di tepi tempat tidur tanpa sekali pun menatap suaminya.Marvin perlahan ikut bangkit. Telapak tangannya yang terbalut perban rapat akibat goresan kaca kemarin terasa ngilu, namun tak sebanding dengan rasa nyeri di dadanya."Alina, tolong dengarkan aku dulu..." panggil Marvin parau, mencoba meraih pergelangan tangan istrinya."Jangan sentuh aku!" pangkas Alina cepat seraya menghempaskan tangan Marvin. Ia menatap Marvin dengan tatapan tajam yang tak lagi memancarkan kehangatan sedikit pun. "Tangan mu terluka karena kebodohan mu sendiri. Jadi, jangan berlagak seolah kau korban di sini.""Aku tidak pernah menganggap diriku korban, Alina. Aku tahu ini kesalahan ku," sela Marvin dengan suara bergetar. "Aku menyelamatkan mu! Kau hampir mengakhiri hidup mu sendiri kemarin! Tapi tidak apa-apa, asal kau selamat."Alina tertawa sumbang,

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 135 Ancaman Alina

    "Jangan mendekat, Marvin!" ancam Alina dengan suara sangat dingin, menatap lurus mata suaminya tanpa keraguan sedikit pun. "Satu langkah saja kau maju, aku pastikan pecahan kaca ini menembus nadiku! Aku tidak main-main, Marvin!"Marvin menghentikan langkahnya seketika. Kedua tangannya terangkat ke udara dengan tubuh gemetar hebat dan wajah pucat pasi."Alina, tolong... Jangan lakukan itu, Sayang! Jangan sakiti dirimu, kau bole melakukan itu kepadaku," jerit Marvin parau, air matanya menetes deras. "Aku mohon, turunkan kaca itu! Hukumlah aku, tapi jangan sakiti dirimu sendiri! Please, Alina. Buang kaca itu dari tangan mu!""Menghukum mu?" Alina tertawa sumbang di tengah tatapan kosongnya. "Untuk apa aku menghukum mu? Bukankah aku wanita mandul yang tidak berguna?! Bukankah aku hanya benalu yang selalu mempertaruhkan nyawa mu? Aku hanya membahayakan nyawa mu dan merepotkan mu. Kenapa kau tidak melepaskan aku?!""A-apa yang kau bicarakan, Alina?!" bentak Marvin frustrasi. "Siapa yang me

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 134 Sang Pengacau

    Prang!"Siapa?" Alina terkejut saya mendengar suara gaduh di luar.Suara kaca jendela kamar yang pecah mengejutkan Alina. Belum sempat ia berteriak, dua pria bertopeng hitam melompat masuk lewat balkon, langsung menerjang dan membekap mulut Alina rapat-rapat."Siapa kalian?" tanya Alina dengan wajah panik."Jangan teriak atau leher mu terlepas dari badan mu!" ancam salah satu penyusup seraya menempelkan pisau ke leher Alina.Alina meronta histeris di dalam cengkeraman mereka. Satu penyusup lainnya dengan cepat mengikat tangan Alina dan menggeretnya menuju pintu balkon tempat mereka naik."Cepat bawa dia!" perintah salah satu orang di sana.Alina lalu diseret keluar dengan kasar. Namun, belum sempat mereka membawa Alina melompati pembatas balkon, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar menggelegar dari dalam lorong, disusul suara tembakan yang memecah keheningan rumah.Duar!"Lepaskan dia! Atau aku tembak kepala kalian!" teriak Leo yang langsung mendobrak pintu kamar bersama belasan

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 4

    Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 3

    Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 6

    "Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 5

    Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status