MasukMarvin: "Bagaimana bisa kau melepaskannya begitu saja, Leo? Seharusnya kau bisa menghentikan nya!" bentak Marvin dengan urat leher menonjol, mencengkeram ponselnya erat-erat di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan raya. "Cari tahu bus apa yang ditumpanginya! Kejar sampai dapat! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya!"Leo: "M-maaf, Tuan... Bus itu melaju ke jalur lintas provinsi dan tidak menggunakan identitas asli. Jejaknya hilang di perbatasan, kami akan berusaha melakukan pencarian lagi," jawab Leo dengan suara gemetar di seberang sana.Marvin membanting ponselnya ke dashboard mobil hingga hancur. Napasnya memburu, matanya merah padam menatap jalanan gelap gulita."Alina... Kenapa kau begitu tega meninggalkanku? Kenapa kau membenciku seperti ini? Bukankah aku sudah meminta maaf padamu?" racau Marvin frustrasi, memukul roda kemudi berkali-kali hingga buku-buku jarinya berdarah.Ia menyesal. Penyesalan teramat besar menghujam dadanya, menyadari bahwa kesalahan dan sikapnya yang
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang mencekam. Marvin mengurung Alina dalam pengawasan ketat, namun ia terpaksa melangkah keluar rumah untuk menghadiri rapat darurat direksi yang tidak bisa ditunda."Aku keluar sebentar, Sayang. Aku akan segera pulang." Marvin mengecup pucuk kepala Alina sebelum akhirnya dia pergi.Melihat kesempatan emas itu, Alina bertindak cepat. Saat seorang pelayan kamar melangkah masuk membawa baki makanan, Alina berpura-pura pingsan di lantai."Nyonya Alina! Astaga, Nyonya! Apa yang terjadi dengan mu? Tolong!" jerit pelayan panik, langsung berlari mendekat tanpa mengunci pintu.Dengan sigap, Alina membuka matanya, mendorong pelayan itu hingga tersungkur, lalu berlari kencang keluar kamar. "Nyonya Alina, jangan pergi! Tolong... Nyonya Alina kabur!" teriak pelayan.Alina tak pedulikan teriakan pelayan itu, ia langsung berlari menyusuri lorong rahasia di area belakang mansion. Di sana ada jalur yang biasa digunakan para pekerja dan ia pun berhasil meloloskan
"Mati? Kau bilang hatimu telah mati untukku?" bisik Marvin dengan suara yang terdengar gemetar di tengah keheningan kamar yang kedap udara. Ia melangkah perlahan mendekati tempat tidur, menyamakan posisinya dengan meratapi punggung Alina yang kaku. "Jangan katakan itu, Alina. Selama aku masih hidup, tak akan aku biarkan hatimu mati. Aku akan melakukan apapun untuk membuat hatimu kembali seperti dulu.""Tubuhku memang bernapas, Marvin, tapi hatiku sudah mati. Bagaimana kau bisa menghidupkan hatiku yang sudah mati?" sahut Alina tanpa menoleh sedikit pun. "Alina... Jangan seperti ini. Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku sangat mencintai mu."Suaranya teramat datar, tanpa riak emosi. "Tapi wanita yang pernah mencintai mu setengah mati sudah mati tepat saat tirai besi itu turun."Marvin berlutut di lantai dingin tepat di samping tempat tidur. Jemarinya yang gemetar perlahan terulur untuk menyentuh ujung gaun Alina, tak berani menyentuh kulit istrinya langsung. Ia
"Kau sudah gila, Marvin! Buka tirai ini sekarang! Jangan gila kamu!" jerit Alina histeris, memukul-mukul dada bidang suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Lebih baik aku mati terkunci di sini daripada harus hidup semenit lagi dengan pria pembohong seperti mu! Aku membenci mu!"Marvin tidak bergeming. Ia membiarkan pukulan bertubi-tubi itu mendarat di tubuhnya, sementara kedua lengannya semakin erat mengunci tubuh Alina dalam pelukan posesif yang menyesakkan."Pukullah aku sepuas mu, Alina. Bunuh aku sekalian kalau itu bisa membuat mu tetap tinggal di sisiku!" geram Marvin dengan suara parau yang bergetar hebat. "Tapi aku tidak akan pernah membiarkan mu melangkah keluar dari pintu itu bersama Daniar!""Lepaskan aku, Marvin! Jangan egois! Kau tidak bisa memaksaku seperti ini." air mata Alina akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya. "Kau menyiksaku! Pernikahan ini sudah hancur! Kau sudah mengkhianati aku, Marvin!""Tidak! Selama aku bernapas, pernikahan kita tidak akan p
"Apa yang kau katakan, Alina? Coba katakan lagi!" bentak Marvin dengan nada penuh amarah."Ceraikan aku, Marvin! Apa perlu aku ulang kataku berkali-kali?" balas Alina dengan tegas.Cengkeraman tangan Marvin di jemari Alina mendadak melonggar. Kata 'ceraikan' yang keluar dari bibir istrinya terasa menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau. Ia benar-benar bingung saat itu."T-tidak... Tidak, Alina. Tolong jangan minta ini," bisik Marvin menggeleng pelan, matanya memerah dan berkaca-kaca. "Minta apa saja padaku... Siksa aku, pukul aku, tapi jangan minta perceraian! Aku mohon kepada mu, Alina.""Lalu kau mau aku terus terkurung di sini? Kau ingin aku terus merasakan sakit hati kepadamu, Marvin?!" sentak Alina, menepis kasar tangan Marvin hingga terlepas."Tidak Alina. Mana mungkin aku menginginkan itu.""Lantas apa? Apa aku harus memendam rasa sakit melihat kau dan wanita itu terus bayang-bayangi hidupku?!""Aku sudah membereskan nya, Alina! Kau lihat sendiri di vid
"A-apa maksud mu, Marvin? Kenapa kau marah?" gagap Lenika, menyapu air mata bohongnya seraya menatap Marvin dengan tubuh gemetar. "Bayi ini anak mu! Kau tahu sendiri malam itu kita__""Malam itu aku sama sekali tidak menyentuh mu, Lenika! Kau jangan berbohong dan mengarang cerita," potong Marvin dengan bentakan menggelegar.Ia berbalik menghadap puluhan kamera wartawan yang masih menyala, mengabaikan kilatan blitz yang saling bersahutan."Dengarkan aku baik-baik, kalian semua! Aku ingin mengklarifikasi perihal anak yang dikandung oleh Lenika!" seru Marvin tajam, suaranya terdengar lantang menembus keheningan venue. "Anak yang dikandung Lenika adalah anak dari almarhum sahabatku, ayah biologis anak yang dikandung oleh Lenika. Dia meninggal dunia dalam sebuah pertempuran sebelum sempat menikahi Lenika! Nama belakang yang ku gunakan semata-mata bentuk tanggung jawab finansial atas peninggalan sahabatku, bukan karena aku ayah biologisnya!"Suasana konferensi pers langsung gempar. Bisik-bi
Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka
"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan."Aku tidak akan
"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr







