Lidah Baskara merayap dengan presisi seorang pemburu, memberikan sensasi panas yang kontras dengan dinginnya udara malam Djakarta tahun 1955. Saat bibirnya menyentuh pangkal paha Lastri, wanita itu tersentak, pinggulnya terangkat dari sprei sutra, seolah sedang mencari pegangan di tengah badai yang ia ciptakan sendiri.Baskara tidak lagi peduli pada risiko tiang gantungan yang mungkin menantinya jika pengkhianatan ini terendus oleh Tuan Broto. Di bawah temaram lampu minyak yang bergoyang lembut, ia hanya melihat Lastri, bukan sebagai nyonya besar Menteng, melainkan sebagai wanita yang sedang dahaga akan sentuhannya.Baskara menarik kain segita satu-satunya penghalang di antara ia dan Lastri. Sekali tarik penghalang itu sudah lenyap."Bas ... ahh ... Baskara …," rintih Lastri. Suaranya pecah, martabat kebangsawanannya luruh bersama tiap inci penjelajahan lidah Baskara.Baskara mendongak sejenak, menatap mata Lastri yang sayu dan berkabut oleh gairah. "Mbakyu sendiri yang memancing maca
Read more