"Jangan, Bas! Jangan buka pintunya!" bisik Sekar dengan nada mendesak. Tangannya mencoba mencengkeram lengan kekar Baskara, berusaha menahan pria itu agar tetap berada di sisinya. Sekar tahu betul, jika Sari masuk, rencananya untuk menjadi satu-satunya wanita yang mengandung benih "sang ahli waris" malam ini akan terancam. Ia ingin dominasi total, bukan berbagi panggung. Namun, Baskara yang sekarang bukan lagi pria yang bisa dikendalikan oleh logika atau perintah majikan. Matanya yang merah menatap pintu kayu itu seolah melihat sebuah mangsa baru yang datang menyerahkan diri. Baginya, ketukan Sari bukan sebuah gangguan, melainkan undangan tambahan untuk pesta gairah yang sudah di ambang ledakan. "Lepaskan, Kar," suara Baskara terdengar berat, serak, dan penuh otoritas maskulin yang liar. Dengan sekali sentakan lembut namun tak terbendung, Baskara melepaskan cengkeraman Sekar. Tenaga Sekar yang halus tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan murni pria yang sedang dirasuki ramu
Read more