Baskara menyelipkan foto itu ke dalam balik kemejanya, merasakannya dingin menyentuh kulit dadanya."Kita harus keluar dari sini sebelum fajar, Mbak," bisik Baskara sembari berdiri. Ia mendekati ventilasi angin yang cukup besar di bagian atas dinding gudang."Tapi pintunya dikunci, Bas! Ventilasi itu terlalu tinggi," ujar Lastri cemas.Baskara menoleh, menatap Lastri dengan tatapan maskulin yang penuh kepercayaan diri. Di saat terdesak seperti ini, pesona Baskara sebagai pria yang bisa diandalkan memuncak. "Ventilasi itu tidak terkunci. Aku bisa memanjatnya, lalu aku akan mencari cara membuka pintu ini dari luar atau mencari tangga untuk menolong Mbak keluar."Baskara mendekati tumpukan peti kayu yang cukup stabil. Dengan gerakan lincah layaknya macan tutul, ia memanjat tumpukan itu. Otot-otot punggungnya yang tegap nampak menonjol di balik kemejanya saat ia meraih bibir ventilasi."Hati-hati, Bas …," gumam Lastri, matanya tak lepas menatap punggung pria itu. Ada rasa kagum yang berc
Read more