Beranda / Urban / Hestia / Chapter 54 - Stolen Glances, and Closer Distance

Share

Chapter 54 - Stolen Glances, and Closer Distance

Penulis: Dyara
last update Tanggal publikasi: 2026-04-22 12:26:41

Dada Patra seketika bertalu nyeri mendengar nama orang yang paling ia hindari. Apalagi cerita Shannon yang perempuan itu lanjutkan tanpa sadar seberapa takut lawan bicara di depannya. “Dia jelas banget ngasih alesan putus karena orang lain! Tapi, dia nggak mau kasih tau orangnya siapa…!”

Patra hanya bisa diam mematung di posisi duduk yang kian tegap. Seakan menjauhkan jarak saling tatap bisa membuat Shannon tidak mengendus gelora penasaran dan tertariknya yang salah pada Nero. “Lo mau tau, Ka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hestia   Chapter 58 - Fear of Being Seen

    Tiga minggu berlalu, sejak Boris kedatangan keluarga besar di rumah vertikal yang ia kelola. Boris sibuk membuka cabang lainnya di wilayah-wilayah dekat spot perkantoran, ditemani Tashi dan Cherry beserta babysitternya. Patra dan tamu-tamu lain pun memiliki kesempatan untuk menjenguk keluarga mereka di rumah vertikal itu, lebih lama. Kerinduan tidak kenal batas waktu. Sama seperti Patra yang sudah datang ke kamar Talia di rumah baru pacarnya sejak Sabtu pagi. Kini hari sudah bergulir ke Minggu siang, tetapi Patra enggan mengangkat kakinya dari kasur. Tempat tidur yang menghadap langsung ke jendela kamar Talia. Berhadapan dengan pohon mangga yang rimbun. Cahaya matahari tidak seterik Minggu pagi, meskipun begitu udara dingin menyeruak ke dalam kamar Talia. Berbisik-bisik asri menghantarkan telisik ketenangan—menyelimuti Talia dan Patra. Pasangan itu duduk bersisian. Walaupun kedua mata asik menonton film kiriman Artemis di laptop Talia, Patra menenggelamkan wajah di pundak pacarnya

  • Hestia   Chapter 57 - She's The Only One

    Setelah satu kali Patra membiarkan Nero melewati batas yang selama ini ia bangun, setiap porsi pekerjaan utamanya berkurang—kepala divisi PR sebuah agensi itu akan kembali bekerja di kafe. Tidak lupa, Patra mengecek dulu apakah Shannon meninggalkan ruang divisi. Ia tidak ingin mereka kembali berpapasan. Patra awalnya berpikir tidak akan ada masalah, jika Shannon tidak sengaja menemukannya mengobrol bersama Nero. Ya, usai intimasi antara dirinya dan Nero lewat usapan keras jemari pria itu di kepala dan helaian rambut Patra—berkali-kali Nero mengirim pesan ke nomor Patra. Ia ingin mereka bertemu.Alasannya beragam. Dari makan siang bersama, nonton film baru usai bekerja, sampai ke pameran seni yang sedang dipertunjukkan di sebuah mall, atau galeri seni. Isi kepala Patra berkali-kali meneriaki gerak bibir dan jemari Patra yang selalu setuju pada semua ajakan Nero. Bahkan Patra belum pernah pergi ke museum atau pameran seni apapun bersama Talia, meskipun ia sudah mengunjungi rumah-rum

  • Hestia   Chapter 56 - We Should Feel Safe at Home

    “Kalau kita nikah, tinggal bareng—kayak Hesti … di rumah bareng ortu kamu?” tanya Patra begitu Talia membawa nampan berisi teko tinggi berisi air dingin, sebotol jus jambu, dan dua gelas berisi es batu. Sementara itu, sejak lima belas menit lalu, Patra menunggu di teras. Hari ini orang tua serta kakek dan nenek Boris, si pemilik rumah vertikal, datang. Menginap selama beberapa minggu. Jadi, Patra tidak seleluasa itu bermalam atau santai berlama-lama bersama pacarnya. Talia mengernyitkan kening, lalu tawanya tersimpul pelan mendengar topik yang Patra bicarakan dengan suara terpaksa. “Sebelum liat sendiri, kamu diperlakuin gitu sama mama, aku emang udah nggak ada niat tinggal di sana.” Talia mengedarkan pandangan ke lantai dua—tempat kamarnya dan kamar-kamar orang lain. “Nggak mungkin di sini, sih.”Patra menimbang-nimbang seraya mengikuti sorot tatap Talia. “Tapi, rumah kamu yang ini bisa, lho, kita jadiin tempat simpen barang sedikit. Kita jadiin layar tancep kita sendiri … setiap m

  • Hestia   Chapter 55 - Give Something

    “Gue pernah … dicabulin cowok, Ro,” pungkas Patra berhasil mendorong balik tubuh Nero yang tadinya semakin mendekat ke arahnya. “Kalau gitu tendang gue,” ucap Nero. Kedua mata Patra membulat. Tangannya diraih Nero, lalu ditempatkan di pipi laki-laki itu. “Bayangin muka gue—orang itu, tonjok sekeras-kerasnya.” ‘Nero … Polo?’ Seteguh apapun Patra menghapus wajah sendu Nero menjadi raut superior Apollo … ia tetap tidak sanggup. Mereka, orang yang berbeda. Patra tidak pernah menyangka anak laki-laki sulung Charissa—yang penurut berubah menjadi seperti itu. Ia juga tidak pernah membaca jalan ceritanya dengan Nero berlanjut ke arah lain…. Arah seperti ini. Kedua paha Patra mengatup. Bagian yang pernah disentuh Talia—dan hanya boleh untuk pacarnya, tidak akan semurah itu terbuka untuk siapapun. Pandangan Nero menangkap reaksi Patra. Sang tamu mundur teratur. Memberikan ruang bagi Patra yang sedang mengatur napas. “Lo cuma penasaran sama reaksi setelah pegang kepala gue aja.”Nero mengul

  • Hestia   Chapter 54 - Stolen Glances, and Closer Distance

    Dada Patra seketika bertalu nyeri mendengar nama orang yang paling ia hindari. Apalagi cerita Shannon yang perempuan itu lanjutkan tanpa sadar seberapa takut lawan bicara di depannya. “Dia jelas banget ngasih alesan putus karena orang lain! Tapi, dia nggak mau kasih tau orangnya siapa…!” Patra hanya bisa diam mematung di posisi duduk yang kian tegap. Seakan menjauhkan jarak saling tatap bisa membuat Shannon tidak mengendus gelora penasaran dan tertariknya yang salah pada Nero. “Lo mau tau, Kak? Apa yang paling nyebelin dari momen kita putus….”‘Nggak,’ sahut batin Patra terus merapal berdoa. Ia tidak ingin mendengar Shannon berucap sengit, ‘Nero ternyata juga suka sama cowok!’ “Nero bilang … aku cukup nyalahin dia aja! Aku nggak perlu tau orang itu siapa, dan aku nggak boleh nyalahin orang itu!” ungkap Shannon menutup cerita putusnya dengan mantannya pacar Patra sekarang. Akhirnya Patra bernapa lega, lalu berdehem—berusaha menguarkan energi positif agar Shannon fokus saja dengan Bi

  • Hestia   Chapter 53 - Missing Him

    Jam bergulir cepat setiap Patra bersama Talia. Perkataan terakhir Talia tentang pernikahan Hesti dan Rendi terdengar terlalu tenang. “Hesti juga baru ngasih tau kemarin. Masih bulan September nanti, sih, kamu bisa?” Ditambah binar bersemangat dan senyum lebar Talia. Reaksi santai perempuan itu membuat kekasihnya malu sendiri. Sampai Patra bingung dengan imajinasi di kepalanya—yang membayangkan akan ada pertengkaran hebat lain di antara mereka. Di sinilah Patra kembali berada. Kafe dekat kantor, tetapi kali ini ia sudah memastikan tidak ada batang hidung seorang Nero. Aman. Baru saja meletakkan laptop, tas, dan selesai memesan di meja kasir—begitu Patra berbalik hendak menunggu di meja, ada empat orang masuk ke ruang indoor kafe itu. Mereka bercengkrama singkat, memilih tempat duduk paling pojok, berjarak dua bangku dari tempat Patra. Namun, bukan itu permasalahan utamanya. Shannon adalah salah satu dari empat orang yang baru datang dan memesan. Kedua mata Shannon melengkung ke

  • Hestia   Chapter 34 - Love Thru Trust

    “Gue susah definisiin situasi lo … maaf ya, gue nggak pernah punya pengalaman sama orang yang nggak terlalu intim—tapi gue bisa bantu lo fokus bersyukur sama keadaan sekarang,” komentar Tashi sambil mengunyah keripik kentang, kudapan Cherry, anak perempuannya yang sedang bermain dengan Archie. Pere

  • Hestia   Chapter 8 - Heart to Heart

    Archie terlelap dengan posisi telentang di atas karpet. Karpet ruang tamu tempat Archie dan kedua ibunya menginap. Usai berjuang keras mengimbangi skor dengan kedua orang dewasa di atas papan cookie box, anak laki-laki SD itu lelah. Patra hanya tertawa saat Talia menyarankan Archie agar bocah itu

  • Hestia   Chapter 7 - Uninvited Guest

    Patra melirik jam tangan baby blue sebelum kembali menghempaskan kembali punggungnya ke kepala sofa lobi kampus. Universitas Moonsheer terlihat sangat sepi di akhir pekan, setidaknya itu yang dikatakan satpam pada Patra. Dikarenakan ia bukan mahasiswa dengan ID card, laki-laki itu tidak bisa naik k

  • Hestia   Chapter 6 - Twenty Minutes of Torture

    Tanpa Patra duga, Talia mengeluarkan sarung tangan plastik dari salah satu laci dekat rak botol-botol cat rambut. “Gue udah ngobrol sama ChatGPT, siapa tau kulit lo termasuk yang sensitif. Tangan gue juga dingin, lama-lama di bawah AC sini dari sia—”“Bukan itu!” Patra reflek menepis sepasang sarun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status