Di tengah keriuhan kantor Utama Group yang tak pernah surut, Zain masih sempat mencuri waktu untuk mengirimkan pesan singkat kepada Ranaya. Jemarinya menari di atas layar ponsel dengan gelagat seorang pria yang haus akan pelarian."Sayang, aku kangen. Kita udah lama tidak dinner bareng," tulis Zain, berharap ada oase di tengah gersangnya tekanan pekerjaan dan rasa bersalah yang samar terhadap istrinya.Balasan datang secepat kilat, namun isinya justru membuat bahu Zain merosot seketika."Maaf Mas, hari ini tidak bisa. Kepalaku pusing sekali," jawab Ranaya singkat.Zain menghela napas panjang, merasa lemas. Tanpa kehadiran Ranaya sebagai pelipur lara, ia tak punya pilihan lain selain pulang ke rumah.Di tengah perjalanan, egonya kembali berbisik. Ia mampir ke sebuah butik pakaian mewah dan membeli sebuah gaun merah tanpa berpikir untuk merangkai kata maaf.Dalam benaknya yang dangkal, ia yakin Saifanny akan melunak begitu melihat barang bermerek. Baginya, perasaan istrinya bisa dibeli
Last Updated : 2026-03-18 Read more