Pagi itu, atmosfer di dalam rumah Saifanny terasa begitu dingin, sedingin tekad yang kini membatu di dalam dadanya.Setelah memastikan mesin mobil Zain menjauh dari halaman, Saifanny segera bergerak dengan efisiensi yang mematikan.Ia mengemasi pakaian miliknya dan Syahdan ke dalam koper-koper besar—sebuah tindakan yang bukan sekadar pelarian, melainkan deklarasi perang.Ia memesan taksi online, mengantar Syahdan ke sekolah dengan senyum yang dipaksakan, lalu meluncur menuju rumah ibunya.Sepanjang perjalanan, ia merapatkan syal sutra yang melilit lehernya. Syal itu bukan sekadar pelengkap busana, melainkan tameng untuk menyembunyikan memar keunguan hasil cengkeraman Zain semalam.Di ambang pintu rumah masa kecil Saifanny, Sania berdiri dengan raut wajah yang seketika berubah pasi."Putriku, kenapa membawa banyak barang seperti ini?" tanya Sania, suaranya bergetar melihat koper-koper besar yang diturunkan dari bagasi."Aku mau menginap di sini, Bu. Zain semalam melakukan kekerasan," u
Last Updated : 2026-03-17 Read more