Sore itu, suasana di kamar utama kediaman Rahady terasa mencekam. Zain terduduk kaku di tepi kasur, kepalanya tertunduk sementara telinganya terasa panas dan memerah.Di hadapannya, Laila berdiri dengan napas memburu, jari telunjuknya teracung tepat ke arah wajah putranya. Kata-kata ibunya menghujam bertubi-tubi, namun bagi Zain, itu hanyalah kebisingan yang mengganggu egonya."Zain, kamu denger Ibu, kan?!" seru Laila sembari mengguncang pelan bahu Zain, mencoba menarik kesadaran putranya dari lamunan gelap."Iya, Bu. Aku denger," sahut Zain dengan nada malas, seolah ingin segera mengakhiri sesi penghakiman ini.Laila mengembuskan napas pasrah, dadanya naik turun menahan luapan emosi yang tertahan."Sekarang kamu minta maaf pada Sai. Jangan biarkan masalah ini merusak reputasimu! Apa kata orang nanti kalau mereka tahu kamu menyakiti istrimu sendiri?" ucap Laila berapi-api.Laila sengaja tidak menyentuh topik perselingkuhan; ia memegang janji pada Saifanny bahwa menantunya itulah yang
Last Updated : 2026-04-01 Read more