Di dunia nyata, tubuh Wu Teng bergetar. Cahaya emas menyambar dari pilar ke arahnya, mencoba sekali lagi mengikat kesadarannya.Ling’er, yang juga baru saja memecahkan ilusinya sendiri, melangkah cepat. Ia meraih tangan Wu Teng.Sentuhan itu seperti jangkar.“Wu Teng,” katanya, suaranya mantap meski wajahnya pucat. “Lihat aku.”Ia membuka matanya. Bukan menara. Bukan dunia tunduk.Hanya ruang harta retak, emas yang kusam, dan wanita yang berdiri di sampingnya dengan napas memburu.Ia tersenyum tipis.“Godaan yang… elegan,” gumamnya.Ling’er tersenyum tipis balik. “Keserakahan selalu tahu bagaimana berdandan.”Namun pilar belum selesai.Cahaya emas melonjak lebih tinggi, kini membentuk bayangan mahkota raksasa di udara.Ilusi tak lagi pribadi —ia menyatu, menampilkan gambaran bersama di sekitar mereka: dunia di mana mereka berdua memerintah tanpa tanding, rakyat makmur, musuh tak berani
続きを読む