เข้าสู่ระบบWu Teng melangkah mendekat.
Luka di lengannya masih basah. Dadanya terasa sesak —bukan karena kelelahan fisik, melainkan tekanan mental yang menggerogoti dari dalam.Setelah kematian Master Manipulasi Pikiran, seharusnya aula itu hening.Namun pilar ini tidak membutuhkan dalang. Ia adalah dalangnya sendiri.Ling’er berdiri di sisi kirinya. Rambutnya melekat di dahi oleh keringat.Cahaya lembut berpendar tipis dari kulitnya —residu kekuatan Penyimba"Wu Teng," Lin Wei kembali memanggil, suaranya lebih pelan kini. Ia menyentuh lengan Wu Teng, mengirimkan gelombang kehangatan menenangkan yang merupakan bagian dari kekuatannya. "Ada apa? Apa yang kau lihat?"Wu Teng tidak segera menjawab. Ia melepaskan kristal itu perlahan, duduk di altar batu yang dingin. Kristal itu terus memancarkan aura damai. Hutan di sekeliling mereka, dengan tanaman aneh dan cahayanya, tampak menahan napas. Bau manis bunga-bunga masih menyengat, tetapi kini terasa memuakkan di tenggorokannya."Ling'er," Wu Teng memulai, suaranya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Lin Wei. Matanya penuh kepedihan. "Dia tidak binasa, Lin Wei. Penguasa Harmoni mengatakan esensinya menyatu dengan inti dunia. Dia ada di mana-mana. Dia adalah bagian dari penyembuhan dunia."Lin Wei mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah dari cemas menjadi sedih, namun juga ada secercah pemahaman. Ia menunduk menatap kristal itu, lalu kembali ke Wu Teng. "Jadi, dia menjadi... bagian d
Aura keemasan dari kristal itu terasa hangat di kulitnya. Wu Teng memejamkan mata, membiarkan esensi Ling'er menyelimutinya. Ini bukan sekadar kenangan. Ini adalah sebuah keberadaan. Tangannya menyentuh permukaan kristal yang dingin dan halus.Seketika, sebuah lonjakan energi dahsyat menyambar. Bukan hanya kehangatan Ling'er, tetapi juga kekuatan yang tak terbatas. Itu adalah energi yang sangat akrab, namun kini murni, intens, dan mengguncang jiwanya hingga ke dasar. Rasanya seolah-olah dunia itu sendiri beresonansi, bukan sekadar menanggapi, melainkan hidup dan berbicara melalui sentuhannya. Kristal itu bersinar teramat terang, membanjiri hutan dengan cahaya keemasan yang menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang.Cahaya keemasan dari kristal itu membanjiri hutan, menelan segalanya. Wu Teng merasakan dirinya ditarik ke dalam pusaran energi, melampaui waktu dan ruang. Tubuhnya terasa ringan, etereal, seolah melebur dengan c
Wu Teng merasakan beban baru. Ia telah menyelamatkan dunia dari satu kehancuran, namun kini dunia itu sendiri yang terancam oleh ketidakseimbangan yang tak terlihat.Ia, sebagai Pilar Ketujuh, adalah entitas kekuatan penghancur. Bagaimana aku bisa memperbaiki ini?Kekuatanku hanya untuk menghancurkan, bukan membangun."Anomali energi menyebar dengan cepat," lanjut Grand Master Yun. "Beberapa titik menunjukkan lonjakan energi kehidupan yang berlebihan, sementara yang lain diselimuti oleh kekosongan yang mematikan. Jika ini berlanjut, dampaknya bisa lebih buruk dari perang manapun."Wu Teng memejamkan mata, memikirkan Pilar Ketujuh di dalam dirinya. Energi itu kuat, membakar. Apakah itu bisa digunakan untuk menstabilkan, menyembuhkan, daripada hanya menghancurkan? Ini adalah pertanyaan yang mengganggu pikirannya selama berminggu-minggu sejak denyutan Ling'er."Sebagai Pilar Ketujuh, kau adalah koneksi paling kuat dunia dengan energi primordial itu," Grand Master Yun berkata, seolah memb
Angin musim semi dari Benua Timur menerbangkan helai rambut Wu Teng, melambai-lambai di sekelilingnya. Dari puncak bukit sakura, ia melihat dunia di bawahnya, sebuah permadani yang perlahan pulih. Kota-kota yang dulu hancur kini bersinar dengan cahaya obor, gema tawa dan nyanyian perayaan naik ke udara, merayakan kemenangan atas Tuan Kegelapan Abadi. Setahun telah berlalu sejak perang besar itu, namun di dalam dada Wu Teng, hanya ada kehampaan yang menganga. Liontin batu giok yang dulu milik Ling'er, kini terasa hangat dalam genggamannya, satu-satunya pengingat nyata akan kehadirannya yang dulu.Mata Wu Teng memindai cakrawala. Dunia telah selamat, itu pasti. Ia, Wu Teng, adalah penyelamatnya, Pilar Ketujuh yang dijanjikan. Gelar itu terasa seperti beban, bukan mahkota. Setiap sorakan yang terdengar dari bawah, setiap wajah bahagia yang ia bayangkan, semakin menekan jiwanya. Mereka merayakan sebuah kemenangan, sementara ia, pemenangnya, merasa kalah. Ling'er tidak kembali. Pengorbanan
Ling'er, yang kini sepenuhnya menjadi penghubung, memfokuskan semua energi gabungan itu."Ini... adalah... untuk dunia!" raung Ling'er, suaranya kini bercampur dengan gema kekuatan primordial.Ia menyalurkan energi yang tak terukur itu, yang merupakan perpaduan Pilar Ketujuh Wu Teng dan esensi Penyeimbangnya, langsung ke inti Tuan Kegelapan Abadi.Tuan Kegelapan Abadi terkesiap, wujudnya yang tak beraturan bergetar hebat.Seringai kejamnya lenyap, digantikan oleh ekspresi kehampaan yang nyaris seperti teror."Mustahil! Kau... kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"Energi yang mengalir melalui Ling'er terlalu murni, terlalu kuat, terlalu terhubung langsung dengan akar dunia itu sendiri.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, yang secara inheren mengganggu esensi Tuan Kegelapan Abadi.Sebuah ledakan cahaya keemasan yang menyilaukan dan kegelapan hitam yang pekat meledak di tengah aula, menerangi seluruh a
Namun, saat Wu Teng mendekat, ruang di sekelilingnya melengkung, berkerut, seolah realitas itu sendiri menjadi kain tipis yang ditarik ulur.Wu Teng merasa dirinya terlempar, bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh manipulasi ruang-waktu yang tak terpahami.Ia mendapati dirinya jauh di belakang titik semula, Pilarnya berdenyut kesakitan, kebingungan merayapi benaknya. Dia memanipulasi ruang?"Kalian tidak memahami kekuatan sejati, manusia," suara Tuan Kegelapan Abadi bergemuruh. "Aku adalah kehendak yang mendahului waktu itu sendiri. Ruang dan waktu adalah ilusi yang bisa kuputar, kulipat, dan kuhancurkan sesukaku."Ling'er, yang sejak awal terus fokus, memejamkan mata. Ia tahu Wu Teng tak bisa melawan kekuatan ini dengan frontal.Pilar Penyeimbangnya, meskipun lemah, mulai memancarkan riak-riak energi transparan.Itu adalah frekuensi yang sama sekali berbeda, sebuah melodi dunia yang mencoba mengganggu simfoni kehampaan Tuan K
Wu Teng menemukan patung naga kecil dengan mata mutiara hitam kusam.Dengan hati-hati, ia memutar mata naga itu ke arah timur.Sebuah suara gemuruh pelan terdengar, dan dinding batu di sebelahnya bergeser perlahan, menampakkan terowongan gelap yang menukik ke bawah.Wu
Wu Teng menggunakan pangkal pedangnya untuk memukul pergelangan tangan pria itu, membuat goloknya terlepas.Kemudian, dengan satu gerakan cepat, ia mengunci lengan Pendekar Bayaran itu di belakang punggung, menyerahkannya kepada Ling'er.Ling'er tidak membuang waktu. Dengan jaru
Udara terasa dingin meskipun matahari bersinar.Rasa hampa yang aneh mulai merayapi jiwa Wu Teng, seolah seluruh emosi positifnya perlahan terkikisSebuah bisikan samar, tetapi mematikan, terngiang di telinganya.Semuanya sia-sia. Perjuangan ini, pengorbanan ini, tidak
Suara yang terdengar bukan ledakan, melainkan tarikan napas yang tercekik.Cahaya emas di tubuh Jenderal itu tersentak. Aliran yang menguatkannya terputus.Untuk satu detik, ia berdiri, kebingungan. Lalu kekuatan yang ia paksa masuk ke tubuhnya memberontak.Retakan menj







