Setelah mengetuk untuk kedua kalinya, Sabella menahan napas. Dari dalam kamar, sayup terdengar langkah kaki mendekat. Jantungnya berdebar, berharap pintu itu segera terbuka. Ia menggigit bibir, menahan rasa gugup yang tiba-tiba muncul di dada. Harapannya berubah manis saat pintu benar-benar terbuka. Wajah tampan Ryker menyembul, tetapi kali ini tatapannya berbeda. Tidak lagi setajam sebelumnya, tidak sedingin tadi. Ada kesan lelah dan sayu yang membuat Sabella terdiam sejenak. “Ada apa, Sabella? Kenapa belum berenang juga?” tanya Ryker pelan, seolah sengaja menyindir halus. Sabella menatap tanpa berkedip, wajahnya tegang dengan semburat merah di pipi. “Mas, aku tidak tenang. Kenapa kamu terasa marah padaku?” tanyanya langsung, nyaris tanpa jeda. Abai akan sindiran itu. Ryker bertaut alis sesaat, lalu berkata santai. “Hanya perasaanmu saja, kan?” jawabnya acuh tak acuh. Sabella mencibir tipis tanpa sadar. “Perasaanku tidak salah juga, kan,” tandasnya lugas, tetap menatap R
Last Updated : 2026-03-18 Read more