Ben masih menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya membuka pesan itu. Alisnya sedikit terangkat, lalu bibirnya mengulas senyum tipis yang sulit diartikan. Ia menghela napas pelan, seolah baru saja membaca sesuatu yang tidak disangka olehnya.“Ryker bilang, aku tidak usah lagi ke bandara,” ucap Ben akhirnya sambil menatap Sabella. “Dia sedang di sana. Katanya sekalian mengantar Dena ke Jakarta, dan… dia bertemu orang tuaku,” ucapnya lagi. Sabella mengedip cepat. “Jadi, Mas Ryker di bandara?” tanyanya menduga. “Iya, Bel. Bahkan dia minta aku langsung ke rumahnya saja. Orang tuaku langsung dibawa ke sana,” lanjut Ben santai, meski dalam hati sedikit heran dengan kebetulan yang didengarnya.“Apa Mas Ryker tahu, aku di sini?” tanya Sabella dengan menahan napas. “Tidak, Sabella. Tapi tidak mengapa. Asal aku tidak lancang padamu, dia tidak masalah.” Ben tersenyum dengan ekspresi menggoda. Sabella seketika membuang muka sesaat dan menoleh Ben lagi. “Benar yang Mas Ben bila
Last Updated : 2026-03-25 Read more