“Selamat Hari Ibu,” ucap Kaelix tenang seraya menyerahkan sepaket bunga mawar putih pada Miriam. Senyum wanita paruh baya itu langsung mengembang lebar. “Terima kasih, putra Ibu.” Miriam menerima bunga tersebut dengan hati-hati. “Meskipun sibuk, kamu tidak pernah lupa ulang tahun, Hari Ibu, ataupun hari penting lainnya.” Kaelix hanya tersenyum tipis sebelum duduk di sebelah kiri sang ibu. “Kebetulan sedang libur,” balasnya singkat. Miriam mengangguk pelan. Jemarinya mengusap lembut kelopak mawar putih itu, sesekali menghirup aromanya dengan wajah puas. Tak lama kemudian, seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun memasuki ruang tengah mansion Varelio yang luas dan mewah. Martha. Asisten pribadi Miriam. “Selamat siang, Nyonya,” sapa Martha sopan sambil sedikit menundukkan kepala. Miriam mengalihkan pandangan dari bunga di tangannya. “Kamu sudah membawa informasi yang saya minta?” Nada suaranya berubah dingin dan formal. “Sudah, Nyonya.” Martha melirik Kaelix sekilas. Na
Read more