“Melihat Tuan Kaelix ... seperti melihat Nyonya Miriam.” Kalimat itu bergema pelan di kepala Sasqia. Tatapannya masih terpaku pada wajah pria di hadapannya, dingin, tenang, dan sulit ditebak. Kaelix membalas tatapan itu tanpa berkedip sedikit pun, sudut bibirnya terangkat tipis. “Maaf,” ucap Sasqia hati-hati sambil menggenggam erat kantong belanjaannya. “Saya buru-buru harus pulang.” “Saya antar sekalian.” Balas Kaelix cepat, seolah tak memberinya kesempatan untuk menolak. Sasqia kembali menatap pria itu beberapa detik sebelum menggeleng pelan. “Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri.” Setelah mengatakan itu, Sasqia segera berbalik dan melangkah pergi. Rahang Kaelix mengeras. Pria itu langsung turun dari mobilnya, membuat sang sopir refleks menoleh kaget. Kaelix berjalan cepat menyusul wanita itu. Dan sebelum Sasqia sadar, tangan besar pria itu sudah menahan lengannya. Sasqia tersentak. “Menghindar, hm?” bisik Kaelix rendah di dekat telinganya. Sasqia buru-buru menarik lenga
Read more