“Kamu gak kerja, Ka?” tanya Soraya saat menemukan Raka sedang makan santai di ruang tengah. Tatapannya menyipit tajam, penuh selidik. Raka menghela napas panjang, meletakkan sendoknya perlahan. “Sepertinya saya mau resign, Ma.” “Apa? Resign?” Soraya membuang napas kasar, dagunya terangkat tinggi. “Kamu baru kerja berapa hari sudah mau resign? Kamu kira gampang cari kerjaan, hm?” Raka tersenyum tipis, bangkit dari kursi, dan melangkah mendekati Soraya dengan gerakan yang santai tapi penuh maksud. Tubuhnya yang tinggi menjulang di depan ibu mertuanya itu. “Memang tidak gampang, Ma,” jawabnya lembut, suaranya turun satu oktaf. “Tapi saya akan cari yang lebih layak, gaji lebih besar, dan tentunya … lingkungan yang lebih menyenangkan.” Soraya mendengus, tapi ada sedikit kegugupan yang terselip di balik sikap angkuhnya. “Gaji office boy di perusahaan Tuan Kaelix itu jauh lebih besar daripada pekerjaanmu di tempat lain. Itu masih lumayan.” Raka tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan t
Read more