LOGINSetetes darah segar mengalir dari sudut bibir Kaelix. Namun alih-alih marah atau membalas, pria itu hanya memiringkan wajahnya sedikit. Tatapannya perlahan kembali terangkat pada Tristan, tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipukul. “Kamu memukul saya, Tris?” tanyanya pelan. Nada suaranya rendah, nyaris tak menunjukkan emosi apa pun. Tristan berdiri tegak dengan dada naik turun. “Itu belum seberapa untuk mulutmu yang kurang ajar, Kael.” Kaelix menyipitkan mata. “Kurang ajar?” “Iya.” Tristan melangkah maju satu langkah. “Kamu terus membawa-bawa wanita yang sudah meninggal. Menghina wanita yang sudah hamil dan melahirkan anakmu. Dan sekarang kamu tidak mau mengakui darah dagingmu sendiri.” Rahangnya mengeras. “Jadi, ya. Itu pantas kamu dapatkan.” Kaelix perlahan mengangkat tangannya, menyeka darah di sudut bibir dengan punggung tangan. Saat melihat noda merah di kulitnya, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang membuat suasana semaki
“Akhir-akhir ini kamu lebih sering berada di rumah ini,” ucap Tristan sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya menyorot ke arah Kaelix. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Apa ada sesuatu yang sedang kamu pastikan, Kael?” Suasana meja makan mendadak terasa lebih dingin. Miriam menghela napas pelan. “Rumah ini juga rumah Kael, Tris,” tegurnya. “Dia anak Ayah dan Ibu. Tidak ada yang salah jika dia pulang.” Tatapannya beralih pada suami dan ketiga putranya secara bergantian. “Justru Ibu senang melihat kalian berkumpul seperti ini. Orang tua, anak-anaknya, kakak dan adik dalam satu meja makan.” “Tapi bukan itu alasan Kaelix pulang, kan?” balas Tristan tenang. Kaelix yang sejak tadi menikmati kopinya akhirnya mengangkat pandangan. “Saya datang karena Ibu yang meminta.” Tristan terkekeh pelan. “Dari dulu Ibu juga sering meminta kamu pulang. Tapi apa pernah dituruti?” Ia menggeleng. “Tidak, kan?” Rahang Kaelix mengeras sesaat. “Itu karena saya baru menyadari satu hal.” Tatapa
“Tante Sasqia cantik dan baik,” celetuk Sana riang dari kursi samping kemudi sambil memeluk boneka kesayangannya. Tristan yang sedang menyetir melirik sekilas ke arah bocah itu. Senyum tipis terulas di bibirnya. “Kamu suka Tante Sasqia?” Sana langsung mengangguk cepat. “Suka. Pokoknya Sana suka semua yang Papa suka.” Ia tersenyum lebar. “Kalau Papa suka, berarti orangnya baik.” Tristan terkekeh pelan. “Kalau Papa gak suka?” godanya. “Nah, kalau Papa gak suka ...,” Sana berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Sana juga gak suka.” Tristan mengangkat satu alis. “Oh ya?” “Iya.” Sana mengangguk mantap. “Sama kayak Mama Yo—” Kalimatnya terputus. Bocah itu buru-buru menggeleng. “Eh, salah. Tante Yola maksudnya.” Senyum Tristan perlahan memudar. “Kenapa dengan Tante Yola?” tanyanya tenang, meski nada suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Sana memainkan jari-jarinya yang mungil. “Papa gak suka Tante Yola, kan? Jadi Sana juga gak suka.” Tristan menghembuskan napas panjang. “Sa
Perjalanan pulang berlangsung jauh lebih hening dibandingkan saat mereka berangkat. Sasqia yang duduk di kursi belakang sesekali melirik ke arah sang ayah. Sejak mereka meninggalkan restoran, Mahendra lebih banyak diam sambil menatap jalan raya di luar jendela. Tidak ada senyum. Tidak ada candaan. Pria itu hanya tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Pa ....” Sasqia akhirnya memanggil pelan. Mahendra yang sejak tadi menatap keluar jendela langsung menoleh. “Iya?” Sasqia meraih tangan sang ayah yang berada di atas pangkuannya. “Papa dari tadi diem terus.” Mahendra tersenyum tipis. “Memangnya tidak boleh diam?” “Boleh.” Sasqia mengerucutkan bibirnya. “Tapi bukan diem yang kayak gini.” “Kayak gimana?” “Kayak lagi mikirin sesuatu.” Mahendra terkekeh pelan. “Perasaan kamu terlalu peka.” “Papa ngomong apa aja sama Mas Tristan waktu aku sama Sana ke toilet?” Pertanyaan itu membuat Mahendra terdiam sejenak. Ia menatap wajah putrinya beberapa saat sebelum menghela napas perlahan.
“Maaf jika saya lancang,” ucap Mahendra hati-hati. “Tapi saya sulit percaya kalau seseorang seperti kakak Anda bisa menelantarkan anak kandungnya sendiri.” Tatapan Tristan perlahan menggelap. “Ayah biologis Sana bukan pria yang baik, Pak.” Mahendra terdiam. “Sedangkan kakak saya ...,” Tristan berhenti sejenak. “Dia hanya terlalu membenci ibunya.” Suasana meja mendadak sunyi. Tak ada suara selain dentingan alat makan dari meja lain. Mahendra perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun justru semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya. Tristan kembali membuka suara. “Sebenarnya ada satu hal lagi yang belum diketahui banyak orang tentang Sana.” Mahendra langsung menatapnya. “Apa itu?” Tatapan Tristan perlahan berubah tajam. “Identitas ayah kandungnya yang sebenarnya.” “Baiklah,” ucap Mahendra setelah beberapa saat terdiam. “Kita lupakan dulu pembahasan tentang Sana.” Tristan mengangguk pelan. “Di sini seharusnya saya yang bertanya mengenai keseriusan Anda terhadap a
“Kamu tidak bilang kalau akan membawa Papa kamu.” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Tristan begitu ia duduk di kursi sebelah Sana membuat Sasqia tersentak kecil. Wanita itu langsung tersenyum kikuk. “Dadakan, Mas.” Ia menggaruk pelipisnya pelan. “Maaf. Saya cuma kepikiran sekalian aja. Biar Mas sama Papa bisa kenalan langsung.” Sasqia melirik Mahendra yang sejak tadi memperhatikan Tristan dengan saksama. “Papa juga dari kemarin penasaran pengen ketemu Mas.” Sudut bibir Tristan terangkat tipis. “Untung saya sudah siap bertemu dengan Papa kamu.” Mahendra ikut tersenyum kecil. “Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya.” Tristan menoleh. “Di mana, ya?” “Rumah sakit.” Mahendra menyipitkan mata, berusaha mengingat. “Kalau tidak salah, waktu saya kontrol.” Sasqia langsung mengangguk antusias. “Oh iya!” Ia menepuk dahinya sendiri. “Waktu itu aku yang antar Papa ke rumah sakit.” Tristan akhirnya mengingat. “Benar. Sepertinya memang pernah.” Mahendra mengangguk pelan sebelum me
“Gimana, Ma? Kalungnya asli?” tanya Shiren malam itu, begitu mereka selesai makan malam bertiga bersama Sherly. Di sudut ruang tengah, Sherly asyik memainkan kotak musik balerina pemberian bibinya. Boneka beruang di pelukannya didekap erat, seolah takut ada yang merebutnya. “Asli, dong. Harganya m
“Ternyata … kamu seorang pramugari.” Kaelix menyunggingkan senyum tipis. Tatapannya menelusuri sosok Sasqia dari ujung rambut hingga sepatu dengan sorot mata yang terlalu tajam untuk sekadar menilai seragam. Sasqia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering mendadak. “Saya permisi, Tuan.” “Ah,
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola







