Share

BAB 341

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-08-28 00:05:21

“Saya harap Ayah bisa mengajari istri Ayah dengan benar sebelum saya sendiri yang turun tangan.”

Klik.

Panggilan terputus.

Remmer masih berdiri kaku di depan jendela kamar, ponsel tergenggam erat di tangan. Tatapannya kosong menembus kaca, tetapi pikirannya justru dipenuhi satu hal—nada suara Kaelix yang begitu dingin.

Selama ini putra sulungnya memang dikenal tegas. Namun kali ini berbeda. Kaelix tidak sedang sekadar marah kepada ibunya, ia sedang memberi peringatan.

Dan Remmer tahu, putr
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nia Khair
kael terbaik pokonya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 341

    “Saya harap Ayah bisa mengajari istri Ayah dengan benar sebelum saya sendiri yang turun tangan.” Klik. Panggilan terputus. Remmer masih berdiri kaku di depan jendela kamar, ponsel tergenggam erat di tangan. Tatapannya kosong menembus kaca, tetapi pikirannya justru dipenuhi satu hal—nada suara Kaelix yang begitu dingin. Selama ini putra sulungnya memang dikenal tegas. Namun kali ini berbeda. Kaelix tidak sedang sekadar marah kepada ibunya, ia sedang memberi peringatan. Dan Remmer tahu, putranya bukan tipe orang yang akan mengucapkan ancaman tanpa benar-benar melakukannya. Terlebih setelah mengetahui apa yang dilakukan Miriam kepada Sasqia. Pintu kamar terbuka. “Mas,” panggil Miriam dengan wajah semringah. Ia masuk sembari membawa ponselnya. “Besok kita dapat undangan ke—” “Kenapa kamu melakukan itu, Mir?” Suara Remmer memotong ucapannya. Miriam langsung berhenti. Remmer berbalik. Tatapannya yang biasanya lembut kini berubah tajam, membuat langkah Miriam tertahan. “Aku ... m

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 340

    Langkah Kaelix nyaris tak memberi jeda. Begitu mendengar ucapan pelayan tadi, ia langsung menaiki tangga menuju lantai dua dengan langkah panjang dan tergesa. Sesampainya di depan kamar, tangannya segera meraih gagang pintu. Klik. Pintu terbuka. Tatapan Kaelix langsung menemukan Sasqia yang duduk di sofa, tubuhnya bersandar lemah dengan kedua mata terpejam. Perempuan itu tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengalami sesuatu. Kaelix mendekat. Ia berjongkok tepat di hadapan istrinya, lalu mengangkat satu tangan dan menyentuh pipi kiri Sasqia dengan hati-hati. Buku-buku jarinya bergerak lembut menyusuri kulit yang sudah berusaha ditutupi riasan. Rahangnya mengeras. Ia sudah tahu. Sasqia hanya berusaha menyembunyikannya. “Ngh ....” Sentuhan lembut itu membuat Sasqia mengeluarkan suara kecil. Kelopak matanya bergerak sebelum perlahan terbuka. Begitu melihat suaminya, senyum tipis langsung terukir di bibirnya. “Mas udah pulang?” Kaelix tidak segera menja

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 339

    Kaelix menghembuskan napas berat. Ia bahkan tidak perlu bertanya lebih jauh untuk menebak siapa yang kembali datang mencarinya. “Ibu mertua saya datang lagi?” tanyanya kepada Arlan yang berdiri tegak di hadapan meja kerjanya. Arlan mengangguk sopan. “Benar, Pak. Beliau sudah menunggu di lobi.” Kaelix memijat pelipisnya sebentar, lalu kembali menatap layar laptop. “Suruh pulang. Saya sedang sibuk.” “Baik, Pak.” Arlan membungkuk singkat, kemudian berbalik meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Kaelix menyandarkan punggungnya pada kursi. Tatapannya menerawang sejenak sebelum beralih pada berkas di atas meja. “Rumah yang saya berikan kepadanya masih sangat layak untuk ditinggali,” gumamnya. Rahangnya mengeras. “Lingkungannya bersih, aman, dan semua kebutuhan dasar tersedia. Memang tidak besar seperti rumah sebelumnya, tetapi bukan berarti tempat itu tidak pantas.” Ia mengetukkan ujung jarinya perlahan di permukaan meja. “Ada kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, dapur, ka

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 338

    Ruangan itu seketika membeku. Pelatih yang sejak tadi mendampingi Sasqia bahkan tidak berani bergerak. Tatapannya berpindah dari Sasqia kepada Miriam dengan wajah penuh keterkejutan. Sasqia sendiri masih terpaku. Telapak tangannya menempel pada pipi yang terasa panas akibat tamparan tadi. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. “Ibu ...,” suaranya bergetar. “Apa maksud Ibu datang ke sini dan tiba-tiba nampar aku?” Miriam justru tertawa pendek. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. “Kamu masih berani bertanya?” Sasqia menelan ludah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Miriam justru menatapnya dengan sorot penuh penghinaan. “Kamu benar-benar menantu yang tidak tahu diri.” Sasqia menurunkan tangannya perlahan. “Kamu dan keluargamu memang sama saja.” Suara Miriam terdengar semakin tajam. “Parasit.” Pelatih di dekat mereka tampak gelisah, tetapi tidak berani menyela. Miriam melangkah mendekat. “Kalau bukan karen

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 337

    “Kurang ajar kamu!” Miriam sontak bangkit dari kursinya. Kursi yang didudukinya bergeser kasar hingga menimbulkan suara berdecit di lantai. Tatapannya berubah dingin. Tidak ada lagi keramahan yang sejak tadi ia tahan. “Kamu datang tanpa diundang, duduk seenaknya, memotong pembicaraan orang, lalu sekarang berani menghina saya di depan teman-teman saya?” Soraya ikut berdiri, tetapi bukannya gentar, ia justru mengangkat dagu. “Saya hanya mengatakan apa yang Sasqia katakan kepada saya.” “Jangan bawa-bawa nama anak itu untuk membenarkan kelakuanmu!” Suara Miriam meninggi. “Kamu benar-benar tidak punya etika, Soraya. Tidak tahu tempat, tidak tahu waktu, bahkan tidak tahu kapan harus berhenti bicara.” Soraya mendengus. “Saya hanya berusaha berteman dengan kalian.” “Berteman?” Miriam tertawa pendek, penuh sinis. “Kamu bahkan tidak tahu cara menghargai orang yang sedang kamu ajak bicara.” Ia menunjuk meja di hadapan mereka. “Kamu datang, lalu sok tahu soal perhiasan milik orang lain.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 336

    “Bagaimana kabar Yola, Rin?” tanya Miriam sambil menyesap tehnya. Rina menghembuskan napas panjang. “Dia masih sibuk dengan bisnis perhiasannya. Hampir tidak pernah punya waktu untuk berkencan. Lama-lama aku khawatir dia memang tidak tertarik menikah.” Tari yang duduk di sebelahnya langsung terkekeh. “Ih, mana ada perempuan yang benar-benar tidak ingin menikah? Yola itu sudah sukses sebagai desainer perhiasan. Kalau suatu hari bertemu pria yang cocok, aku yakin dia juga akan membuka hati.” “Kalau Viona sendiri bagaimana?” Rina balik bertanya. Tari mengangkat bahu. “Sama saja. Dia bilang ingin menikah, tetapi soal kapan, aku juga tidak tahu. Anak itu terlalu menikmati hidupnya sekarang.” Miriam tersenyum kecil, lalu meletakkan cangkirnya di atas meja. “Kenapa kalian harus pusing memikirkan jodoh anak?” ujarnya santai. “Aku masih punya dua anak laki-laki.” Rina dan Tari sontak menoleh. Miriam mengangkat dagunya sedikit, senyum penuh percaya diri terukir di wajahnya. “Yola dengan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 45

    “Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 17

    Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 15

    Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status