“Ya Tuhan … indah banget,” gumam Sasqia takjub. Di hadapannya, Menara Eiffel berdiri megah, bermandikan cahaya keemasan yang berkilauan di langit malam Paris. Mata Sasqia berbinar, memantulkan cahaya menara itu. Untuk sesaat, ia benar-benar lupa bernapas. Tristan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Bukannya ikut terpukau pada menara, ia justru lebih sibuk memandangi sosok perempuan di depannya. Senyum lepasnya, cara matanya berbinar, ekspresi tulus yang tak dibuat-buat. Dan seperti biasa, Sasqia tak pernah melewatkan momen. Klik. Ia mengabadikan sudut demi sudut, langit, cahaya, juga siluet orang-orang yang berlalu-lalang. “Mas, makasih banyak ya udah bawa saya ke sini,” ucapnya tulus tanpa menoleh. Tristan mengangguk pelan. “Sama-sama.” “Mas mau saya fotoin, gak? Nanti saya upload di sosial media,” tawar Sasqia penuh semangat. Tristan menyipitkan mata, lalu menggeleng singkat. “Saya tidak suka difoto. Apalagi diunggah ke media sosial. Kalau kamu mau, saya saja yang
Read more