مشاركة

BAB 63

مؤلف: Langit Parama
last update تاريخ النشر: 2026-03-10 07:04:22

Soraya membeku di tempatnya berdiri.

Kaelix?

Pria muda yang kemarin mempermalukannya di ruang kerja mewah itu?

Tangannya mendadak dingin.

Shiren menatap ibunya bingung. “Siapa itu, Ma?”

Soraya tak langsung menjawab pertanyaan Shiren. Tatapannya tetap tertuju pada pria paruh baya di hadapannya, mantan pemilik rumah yang kini berdiri dengan map dokumen di tangan.

“Wah … terima kasih banyak, Pak,” ujar Soraya dengan senyum lebar yang dibuat-buat. Nada suaranya berubah manis dalam sekejap. “J
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 266

    “Sshh ...,” desis Sasqia pelan begitu mendudukkan dirinya di depan meja rias. Jemarinya tanpa sadar menyentuh pangkal pahanya yang masih terasa pegal. Ia menghembuskan napas panjang sambil menatap bayangannya di cermin. “Mas Kael akhir-akhir ini makin agresif,” gumamnya pelan, pipinya memerah. “Kalau begini terus, aku bisa-bisa susah kerja.” Usai mengeringkan rambut, Sasqia mulai merapikan skincare yang berserakan di atas meja. Sejak pemeriksaan di rumah sakit beberapa hari lalu, kehidupan rumah tangga mereka memang berubah. Kaelix benar-benar serius menjalani program hamil. Setiap saran dokter dijalankan tanpa pernah terlewat. Vitamin, pola makan, waktu istirahat, hingga waktu yang dianggap paling baik untuk meningkatkan peluang kehamilan, semuanya diperhatikan oleh pria itu. Meski begitu, Sasqia justru diam-diam merasa bahagia. Setidaknya, Kaelix masih menginginkan dirinya. “Hari ini Kak Shiren juga mau dateng,” gumamnya pelan sambil tersenyum. “Katanya mau bawain jamu yang b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 265

    Malam itu Sasqia berdiri di depan cermin besar di dalam kamar. Jemarinya merapikan helaian rambut yang jatuh di sisi wajah, lalu mengulas tipis lipstik pada bibirnya. Untuk pertama kalinya, ia merias diri sedikit lebih berani. Bukan karena hendak menghadiri pesta atau bertemu teman, melainkan karena ingin menyambut kepulangan suaminya. Gaun rumah yang dikenakannya pun berbeda dari biasanya. Bahannya lembut, potongannya sederhana, tetapi cukup menonjolkan keanggunan tubuhnya. Tatapannya bertemu dengan bayangan dirinya sendiri di cermin. “Mas Kael ... suka aku karena fisik, kan?” gumamnya lirih. Kalimat itu kembali mengingatkannya pada ucapan Soraya. Bahwasanya laki-laki yang mendekatinya tidak jauh karena fisik semata. Dan sang ibu begitu membanggakan hal tersebut karena Sasqia mewarisinya darinya, serta Soraya meminta Sasqia untuk berterima kasih padanya atas hal itu. Sasqia perlahan menggeleng. “Tapi ... aku juga pengen dicintai karena hatiku. Karena ketulusanku.” Senyumnya me

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 264

    “Ada apa, Martha?” tanya Miriam ketika melihat asisten pribadinya datang tergesa-gesa siang itu. Martha menutup pintu ruang kerja lebih dulu sebelum melangkah mendekat. Raut wajahnya tampak serius. “Saya baru mendapat informasi, Nyonya.” Miriam meletakkan cangkir tehnya di atas meja. “Informasi apa?” “Tuan Kaelix membawa Nyonya Sasqia ke rumah sakit pagi tadi.” Alis Miriam langsung bertaut. “Rumah sakit?” “Iya, Nyonya.” “Untuk apa?” “Pemeriksaan kandungan.” Martha menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Tuan Kaelix ingin memastikan kondisi rahim istrinya setelah mengonsumsi pil kontrasepsi.” Jari-jari Miriam yang semula tenang di atas meja perlahan menegang. “Apa ... apa Kael juga tahu kalau saya—” “Tidak.” Martha buru-buru menggeleng. “Setidaknya sampai informasi yang saya dapat, Tuan Kaelix belum mengetahui siapa yang berada di balik semua itu.” “Dan ... Nyonya Sasqia juga tidak pernah menyebut nama Anda sampai detik ini.” Helaan napas panjang akhirnya keluar dari b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 263

    “Apa yang kamu lakukan tadi?” tanya Tristan dingin. Jevier yang sedang menuangkan segelas air minum menghentikan gerakannya. Ia menoleh sekilas ke arah sang kakak. “Maksudnya?” “Memeluk Sana.” Nada bicara Tristan terdengar datar, tetapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih tajam. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Atau ... kamu mulai ingin mengakui kalau dia anak kandungmu?” Jevier terkekeh pelan, seolah menganggap ucapan itu tak lebih dari lelucon. “Saya hanya memeriksa pasien.” “Pasien?” Tristan menyandarkan bahunya pada kusen pintu. “Sana tidak sakit separah itu.” “Dia demam sejak kemarin.” Jevier menjawab tanpa nada emosi. “Pagi tadi saya memeriksanya. Sebagai dokter, kalau ada orang sakit di depan mata saya, tentu saya akan membantu.” Tristan mendengus pelan. “Aneh.” “Apa yang aneh?” Jevier menyipitkan matanya. “Barusan Sana bilang dia sehat-sehat saja.” “Itu karena dia tidak ingin kamu khawatir.” Jevier menatap lurus ke arah kakaknya. “Dia sendiri yang bila

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 262

    “Mas ... udah gak marah sama aku?” tanya Sasqia pelan. Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan bandara, membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan menjelang sore. Kaelix, yang duduk di sampingnya, menoleh sekilas. “Sejak kapan saya marah sama kamu?” Sasqia tersenyum tipis. “Maksudnya ... masih kecewa.” Tak ada jawaban. Kaelix kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, membiarkan deretan gedung pencakar langit berganti satu demi satu. Melihat tak ada respons, senyum Sasqia perlahan memudar. “Berarti ... Mas masih kecewa sama aku, ya?” Keheningan kembali menyelimuti mobil. Beberapa detik kemudian, Kaelix akhirnya membuka suara. “Apa kamu benar-benar sudah berhenti minum obat itu?” Pertanyaan itu membuat Sasqia langsung menoleh. “Udah, Mas.” Ia mengangguk cepat. “Aku benar-benar udah berhenti.” Tanpa ragu, ia meraih kedua tangan suaminya dan menggenggamnya erat. “Aku mau punya anak dari Mas.” Tatapan Kaelix jatuh pada jemari kecil yang menggenggam tan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 261

    “Om Jev ....” Langkah Jevier yang semula hendak menuju ruang kerjanya terhenti. Ia menoleh ke arah kamar Sana yang pintunya terbuka sedikit. Tanpa banyak berpikir, ia mengubah arah langkahnya. Di atas ranjang, Sana terbaring di balik selimut tebal. Wajah mungilnya tampak pucat, sementara sebuah kompres penurun demam menempel di dahinya. “Kamu kenapa?” tanya Jevier pelan sembari mendekat. “Sana sakit, Om,” jawab gadis kecil itu lirih. “Om, kan, dokter. Periksa Sana, ya, biar cepet sembuh.” Jevier tersenyum tipis. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Sana. Masih hangat. “Sudah diperiksa dokter?” Sana mengangguk pelan. “Udah. Kata Nenek cuma demam biasa.” “Kamu sudah minum obat?” “Udah.” “Kalau begitu tinggal istirahat. Besok juga pasti lebih enakan.” Sana menghembuskan napas pelan. “Sana gak mau sakit lama-lama.” “Kenapa?” Jevier mengernyitkan alisnya. “Nanti Papa Tristan sedih kalau pulang kerja lihat Sana masih demam.” Senyum di wajah Je

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 29

    Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 17

    Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi

    last updateآخر تحديث : 2026-03-19
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 15

    Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 14

    Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status