“Ren,” panggil Raka pelan begitu keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, tetesan air mengalir di pelipisnya. “Iya, Mas?” Shiren segera menghampiri. Ia baru saja merapikan tempat tidur. “Sepertinya belum ada sarapan?” tanya Raka, melirik ke arah dapur yang masih sunyi. Shiren mencebik kecil lalu menggeleng. “Belum, Mas. Bahannya habis. Mama juga belum kasih uang belanja.” Raka mengangguk mengerti. Ia berjalan ke arah laci, mengambil dompetnya, lalu menarik lima lembar uang seratus ribu. Shiren mengernyit saat uang itu disodorkan padanya. “Buat belanja dulu,” ujar Raka lembut. “Memang tidak banyak, tapi pakai sehemat mungkin. Aku janji, dalam seminggu ini aku udah harus dapat kerja.” Senyum Shiren merekah. Ada harapan di sana, harapan bahwa suaminya benar-benar ingin berubah. “Terima kasih, Mas,” ucapnya tulus, menerima uang itu dengan hati-hati. “Aku bakal atur sebaik mungkin.” “Sekarang fokus kebutuhan dapur dulu,” lanjut Raka. “Nanti kalau aku udah kerja, skincare ka
Read more