共有

BAB 62

作者: Langit Parama
last update 公開日: 2026-03-09 07:02:59
Sasqia menatap Tristan lurus, menunggu jawaban yang benar-benar jujur.

“Kamu tidak perlu khawatir, Sas,” ucap Tristan lembut namun tegas. “Saya akan pastikan Jessie tidak mengganggumu lagi seperti dulu.”

Sasqia menghela napas pelan. Mobil sudah melaju meninggalkan bandara, gedung-gedung Paris mulai terlihat di balik kaca jendela.

Namun itu bukan jawaban yang ingin ia dengar.

“Jadi …,” gumamnya lirih tanpa menoleh, “Sejak awal Kak Jessie memang tidak pernah dipecat?”

Hening.

Tristan m
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (6)
goodnovel comment avatar
may cus
yaelaah pakek di lunasin segala lagii kenapa ga biarin pusing aja dulu mikirin cicilan biar girang AQ bacanya......kalo gini kan jadi kenakan mamanya
goodnovel comment avatar
Zelly Frida
tim kaelik soalnya dia unboxing harus tanggung jawab moral tuh
goodnovel comment avatar
xxxx
yeayyy thanks kak udh updt jujur setiap episode aku blm get it jadijya sama siapa wkwk tp blm jd tim javier sorry wkwk
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 114

    Sasqia tiba di rumah tepat saat langit benar-benar kehilangan cahayanya. Jam menunjukkan pukul enam sore, namun suasana sudah gelap dan terasa sunyi. Ia menyeret koper masuk dengan langkah tergesa, napasnya masih tersisa lelah dari perjalanan panjang. “Papa mana, Ma?” tanyanya begitu melihat Soraya duduk santai di ruang tengah bersama Shiren, Sherly, dan Raka. Soraya mengalihkan pandangannya sekilas. “Diajak jalan sama Tuan Kaelix, dari tadi siang.” Langkah Sasqia terhenti sepersekian detik. “Belum pulang?” Soraya menggeleng pelan. “Kenapa?” Sasqia menahan sesuatu di dadanya, lalu menggeleng singkat. “Nggak apa-apa.” Tanpa menambah kata, ia kembali berjalan menuju kamar, menyeret koper yang terasa semakin berat. Begitu pintu tertutup, ia menjatuhkan koper di tengah ruangan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya bergerak cepat meraih ponsel, berniat mengirim pesan pada Kaelix—menanyakan di mana ayahnya dan kapan akan diantar pulang. Namun sebelum sempat mengetik, layar ponseln

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 113

    Mahendra melempar kailnya pelan, lalu menyandarkan tubuh di kursi lipat. Tatapannya lurus ke permukaan air yang tenang. “Terakhir kali saya mancing ...,” gumamnya pelan, “Rasanya sudah lama sekali.” Kaelix duduk di sampingnya, satu kaki sedikit maju, tangannya menggenggam joran dengan santai. “Kenapa berhenti?” tanyanya singkat. Mahendra tersenyum tipis, sorot matanya sedikit menerawang. “Sibuk kerja. Lalu sakit. Lama-lama … lupa kalau saya punya hobi.” Kaelix hanya mengangguk. Tak menyela. Beberapa detik berlalu dalam hening yang justru terasa nyaman. “Saya suka tempat seperti ini,” lanjut Mahendra. “Tenang. Tidak banyak suara, membuat pikiran lebih ringan.” “Hm,” sahut Kaelix pendek. “Memang harus sesekali berhenti.” Mahendra meliriknya sekilas. “Kamu juga sering mancing?” “Tidak,” jawab Kaelix datar. “Hari ini saja.” Mahendra terkekeh pelan. “Berarti saya beruntung.” Kaelix tak membalas, hanya menarik sedikit sudut bibirnya tetap dengan ekspresi datar. Obrolan kembali

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 112

    “Kita sudah sampai, Tuan,” ucap sopir pribadi Kaelix saat mobil berhenti mulus di depan rumah Sasqia. Kaelix melirik sekilas ke arah bangunan itu, lalu kembali menyandarkan punggung dengan tenang. “Kamu saja yang turun,” ujarnya datar. “Dan jangan lupa minta Pak Mahendra membawa kamera milik putrinya.” “Baik, Tuan.” Zidan segera keluar dari mobil, langkahnya mantap menuju pintu rumah. Ia menekan bel satu kali. Tak lama, pintu terbuka. Soraya muncul di ambang pintu, menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut. “Selamat siang, Bu. Saya ingin bertemu dengan Pak Mahendra,” ucap Zidan sopan. Soraya mengamati dari ujung kepala hingga kaki, tatapannya penuh selidik. “Kamu siapa?” Namun sebelum Zidan menjawab, pandangannya teralih ke mobil yang terparkir di depan gerbang. Matanya menyipit. “Itu … Tuan Kaelix, kan?” “Benar, Bu. Hari ini T

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 111

    Kaelix berdiri bersandar di kusen pintu. Kedua tangannya terlipat di dada, sorot matanya dingin—mengamati apa yang dilakukan adik bungsunya. Bukan sekadar mengamati, tatapannya juga terlihat menghakimi. “Masuk ke kamar orang tanpa izin,” ucapnya datar. “Sekarang merekamnya juga?” Jevier menelan ludah, berusaha tetap tenang. “Aku cuma ....” “Untuk apa itu?” potong Kaelix dengan nada rendah. Sunyi sejenak. Kaelix melangkah masuk perlahan, sepatu kulitnya beradu pelan dengan lantai. Tatapannya beralih ke dinding penuh foto itu. Lalu kembali ke Jevier. “Jadi,” gumamnya rendah, sudut bibirnya terangkat tipis, “Kamu juga mulai berpikir hal yang sama?” Jevier terdiam. Kaelix mendekat, berhenti tepat di depannya. “Bahwa Sasqia …,” jedanya disengaja, suaranya merendah, menusuk, “Hanya dijadikan pelarian oleh Tristan.” “Aku tidak berpikir sepert

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 110

    “Papa senang,” ucap Mahendra pelan setelah pintu rumah kembali tertutup, “Akhirnya bisa bertemu langsung dengan orang yang selama ini menanggung semua biaya pengobatan Papa.” Sasqia tertegun. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menelan ludah, lalu memaksakan senyum kecil di wajahnya. “Iya, Pa,” jawabnya lirih. “Kamu jangan sampai menyinggung dia,” lanjut Mahendra, tatapannya penuh arti. “Dia sudah banyak membantu keluarga kita.” Kalimat itu membuat Sasqia langsung mengangkat kepala. Matanya membulat. Soraya yang duduk di samping hanya menyunggingkan senyum tipis, seolah menikmati arah pembicaraan itu. “Benar,” sambungnya dingin. “Jangan sampai kamu jual mahal kalau dia meminta sesuatu. Apalagi sampai bersikap tidak sopan pada orang seperti Tuan Kaelix.” Sasqia menghembuskan napas pelan, menahan sesuatu yang mulai mengendap di dadanya. “Papa juga setuju,” ujar Mahendra lembut. “Tidak baik membuat kecewa seseorang yang sudah membantu kita tanpa pamrih.” Sasqia langsung menoleh.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 109

    “Kaelix?” ulang Mahendra, alisnya berkerut, nama itu terasa tidak asing di telinganya. “Iya, saya Kaelix,” jawab pria itu tenang. “Maaf datang tanpa pemberitahuan. Saya hanya ingin melihat rumah seharga dua miliar yang saya beli.” Ucapan itu membuat Mahendra membeku. “Yang … Anda beli?” suaranya nyaris tercekat. Kaelix hanya mengangguk singkat. “Ah,” lanjutnya santai, “Anda pasti Papa Sasqia? Yang kemarin dirawat karena kanker?” Mahendra refleks mengangguk. “Anda terlihat jauh lebih baik sekarang,” ujar Kaelix, nada bicaranya tetap tenang, bahkan terdengar sopan. “Saya senang melihatnya, Pak.” Mahendra menatapnya lekat. Ada sesuatu yang mulai terhubung di benaknya. “Apa mungkin …,” ia menyipitkan mata, “Anda yang membayar semua biaya rumah sakit saya? Termasuk rawat jalan, bahkan kalau saya harus dirawat lagi nanti?” Kaelix tidak langsung menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang sulit diartikan. “Semoga rumah ini bisa menjadi tempat paling nyaman untuk An

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 15

    Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?

    last update最終更新日 : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 14

    Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola

    last update最終更新日 : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 12

    “Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru,

    last update最終更新日 : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 13

    “Kamu memecat Jessie, Tristan?” tanya Miriam sambil memiringkan kepala, menatap putranya tajam di tengah makan malam keluarga itu. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah, tetapi suasana terasa jauh dari hangat. Tristan duduk tenang, menopang dagunya dengan sat

    last update最終更新日 : 2026-03-18
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status