Se connecterKaelix menghembuskan napas berat. Ia bahkan tidak perlu bertanya lebih jauh untuk menebak siapa yang kembali datang mencarinya. “Ibu mertua saya datang lagi?” tanyanya kepada Arlan yang berdiri tegak di hadapan meja kerjanya. Arlan mengangguk sopan. “Benar, Pak. Beliau sudah menunggu di lobi.” Kaelix memijat pelipisnya sebentar, lalu kembali menatap layar laptop. “Suruh pulang. Saya sedang sibuk.” “Baik, Pak.” Arlan membungkuk singkat, kemudian berbalik meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Kaelix menyandarkan punggungnya pada kursi. Tatapannya menerawang sejenak sebelum beralih pada berkas di atas meja. “Rumah yang saya berikan kepadanya masih sangat layak untuk ditinggali,” gumamnya. Rahangnya mengeras. “Lingkungannya bersih, aman, dan semua kebutuhan dasar tersedia. Memang tidak besar seperti rumah sebelumnya, tetapi bukan berarti tempat itu tidak pantas.” Ia mengetukkan ujung jarinya perlahan di permukaan meja. “Ada kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, dapur, ka
Ruangan itu seketika membeku. Pelatih yang sejak tadi mendampingi Sasqia bahkan tidak berani bergerak. Tatapannya berpindah dari Sasqia kepada Miriam dengan wajah penuh keterkejutan. Sasqia sendiri masih terpaku. Telapak tangannya menempel pada pipi yang terasa panas akibat tamparan tadi. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. “Ibu ...,” suaranya bergetar. “Apa maksud Ibu datang ke sini dan tiba-tiba nampar aku?” Miriam justru tertawa pendek. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. “Kamu masih berani bertanya?” Sasqia menelan ludah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Miriam justru menatapnya dengan sorot penuh penghinaan. “Kamu benar-benar menantu yang tidak tahu diri.” Sasqia menurunkan tangannya perlahan. “Kamu dan keluargamu memang sama saja.” Suara Miriam terdengar semakin tajam. “Parasit.” Pelatih di dekat mereka tampak gelisah, tetapi tidak berani menyela. Miriam melangkah mendekat. “Kalau bukan karen
“Kurang ajar kamu!” Miriam sontak bangkit dari kursinya. Kursi yang didudukinya bergeser kasar hingga menimbulkan suara berdecit di lantai. Tatapannya berubah dingin. Tidak ada lagi keramahan yang sejak tadi ia tahan. “Kamu datang tanpa diundang, duduk seenaknya, memotong pembicaraan orang, lalu sekarang berani menghina saya di depan teman-teman saya?” Soraya ikut berdiri, tetapi bukannya gentar, ia justru mengangkat dagu. “Saya hanya mengatakan apa yang Sasqia katakan kepada saya.” “Jangan bawa-bawa nama anak itu untuk membenarkan kelakuanmu!” Suara Miriam meninggi. “Kamu benar-benar tidak punya etika, Soraya. Tidak tahu tempat, tidak tahu waktu, bahkan tidak tahu kapan harus berhenti bicara.” Soraya mendengus. “Saya hanya berusaha berteman dengan kalian.” “Berteman?” Miriam tertawa pendek, penuh sinis. “Kamu bahkan tidak tahu cara menghargai orang yang sedang kamu ajak bicara.” Ia menunjuk meja di hadapan mereka. “Kamu datang, lalu sok tahu soal perhiasan milik orang lain.
“Bagaimana kabar Yola, Rin?” tanya Miriam sambil menyesap tehnya. Rina menghembuskan napas panjang. “Dia masih sibuk dengan bisnis perhiasannya. Hampir tidak pernah punya waktu untuk berkencan. Lama-lama aku khawatir dia memang tidak tertarik menikah.” Tari yang duduk di sebelahnya langsung terkekeh. “Ih, mana ada perempuan yang benar-benar tidak ingin menikah? Yola itu sudah sukses sebagai desainer perhiasan. Kalau suatu hari bertemu pria yang cocok, aku yakin dia juga akan membuka hati.” “Kalau Viona sendiri bagaimana?” Rina balik bertanya. Tari mengangkat bahu. “Sama saja. Dia bilang ingin menikah, tetapi soal kapan, aku juga tidak tahu. Anak itu terlalu menikmati hidupnya sekarang.” Miriam tersenyum kecil, lalu meletakkan cangkirnya di atas meja. “Kenapa kalian harus pusing memikirkan jodoh anak?” ujarnya santai. “Aku masih punya dua anak laki-laki.” Rina dan Tari sontak menoleh. Miriam mengangkat dagunya sedikit, senyum penuh percaya diri terukir di wajahnya. “Yola dengan
“Pa, kapan Papa pindah ke rumah?” tanya Sasqia malam itu. Ia duduk di tepi ranjang setelah mereka tiba di rumah dari mansion Valerio. Panggilan telepon dengan Mahendra masih tersambung, sementara di hadapannya Kaelix baru saja melepaskan jas yang sejak tadi dikenakannya. Di seberang sana, suara berat Mahendra terdengar setelah beberapa detik. “Kamu tidak diberi tahu suamimu, Sas?” Kening Sasqia berkerut. “Diberi tahu soal apa?” Tanpa sadar, pandangannya beralih kepada Kaelix. Pria itu hanya melirik sekilas sebelum menggantung jasnya, lalu melonggarkan dasi. “Papa tetap tinggal di sini, di rumah ini,” ujar Mahendra akhirnya. Sasqia berkedip beberapa kali. “Oh ....” Rasa lega samar-samar menyelinap ke dalam dadanya. Setidaknya, ayahnya tidak perlu meninggalkan rumah yang selama ini sudah menjadi tempatnya bertahun-tahun. “Terus Mama gimana, Pa?” “Kaelix sudah membelikan rumah lain untuk Mama kamu.” “Oh ....” Sasqia mengangguk pelan. Ia kembali menatap suaminya. Namun Kaelix
“Sekali lagi, saya minta maaf kepada Ayah dan Ibu karena kalian harus mengetahui kabar bahagia ini bukan langsung dari kami,” ucap Kaelix di sela makan malam. Pria itu meletakkan sendoknya sejenak, lalu menatap kedua orang tuanya dengan sungguh-sungguh. Remmer justru tersenyum tenang. “Tidak masalah. Yang terpenting sekarang kami tahu kabarnya benar.” Sasqia terkekeh kecil. “Tentu benar, Ayah. Kami sudah memeriksakannya langsung ke rumah sakit. Bahkan sudah melakukan USG.” “Kalau begitu, Ayah percaya.” Remmer mengangguk mantap, kemudian melanjutkan makan dengan wajah yang masih dihiasi senyum. Kaelix menghembuskan napas lega. Namun beberapa detik kemudian, alisnya berkerut ketika teringat sesuatu. “Saya dengar Ayah dan Ibu mengetahui kehamilan Sasqia dari Jevier.” Tatapannya perlahan bergeser ke ujung meja. “Kamu sendiri tahu dari mana, Jev?” Jevier yang sedang menyuapkan makanan ke mulut sontak berhenti. Matanya membulat. “Hah?” Belum sempat menjawab, ia justru tersedak. Tan
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu
Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?







