Kaelix melirik adik bungsunya sekilas. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, nyaris tak terlihat. “Benar, Jev,” ucapnya santai. “Bahkan pasangan suami istri saja bisa berpisah, apalagi hanya sekadar sepasang kekasih.” Kalimat itu meluncur ringan, namun tatapannya sempat singgah pada Tristan yang duduk tenang di kursinya. Seolah kalimat itu memang ditujukan padanya. Di sisi Tristan, Sasqia menelan ludahnya dengan susah payah. Kedua tangannya saling bertaut di atas pangkuan, jemarinya saling mencengkeram tanpa sadar. Remmer menghela napas panjang. Ia meletakkan sendoknya sebentar, lalu menatap kedua putranya dengan sorot tegas seorang kepala keluarga. “Jangan lakukan hal seperti itu,” ucapnya pelan namun tegas. “Kalau memang menyukai seorang wanita, jangan pernah merebutnya dari pria lain.” Meja makan menjadi sunyi. “Kalau wanita itu tidak memilih kita, berarti memang bukan jodoh kita,” lanjut Remmer. “Kalau suatu saat dia berpisah dari pria sebelumnya, barulah kalian boleh maju
Read more