登入“Aku serius, Mas. Kalau kamu gak mau cerita, malam ini kamu tidur di luar. Nggak boleh tidur di samping aku, gak boleh peluk aku, bahkan gak boleh cium aku.” Sasqia berdiri berkacak pinggang di hadapan sang suami. Tatapannya menyipit tajam, sementara Kaelix yang baru saja selesai mengganti pakaian hanya bisa menghembuskan napas panjang. Pria itu kini mengenakan piyama rumah. Rambutnya masih sedikit basah, sepertinya baru selesai membersihkan diri. Namun, sejak keluar dari kamar Kaelyn hingga kembali ke kamar mereka, Sasqia masih belum menyerah. Ia tetap menginginkan jawaban. “Sayang ….” “Aku serius, Mas,” potong Sasqia dengan tegas. “Jangan panggil aku sayang kalau ujung-ujungnya kamu tetap gak mau cerita.” Kaelix menatap istrinya dalam diam. “Itu tidak penting untuk dibahas.” “Tapi penting buat aku.” “Sasqia—”
Perjalanan pulang menuju rumah berlangsung tenang. Kaelix menyetir mobil, sementara Sasqia duduk di kursi penumpang sambil sesekali menoleh ke belakang. Kaelyn sudah terlelap di dalam car seat-nya setelah cukup lama bermain bersama Sana. Namun, ketenangan itu rupanya hanya dirasakan oleh Kaelix. Sebab sejak meninggalkan Mansion Valerio, Sasqia tidak berhenti memikirkan satu hal. “Mas.” “Hm?” Sasqia menoleh ke arah suaminya. “Tadi Ayah dan Ibu bilang kamu sama Mas Tristan pernah gak akur.” Kaelix tetap memusatkan perhatian pada jalan di depannya. “Hm.” “Terus?” “Terus apa?” tanya Kaelix, nada bicaranya begitu tenang. “Ya, ceritanya.” Kaelix melirik sang istri sekilas. “Saya pikir kita sudah selesai membicarakan itu.” “Belum.”
Mansion Valerio tampak lebih ramai dari biasanya sore itu. Mobil Kaelix baru saja berhenti di halaman depan ketika salah satu pelayan bergegas membukakan pintu. Kaelix turun lebih dahulu, kemudian beralih ke sisi lain untuk membantu Sasqia keluar. Setelah itu, ia membuka jok belakang dan mengeluarkan stroller berwarna krem yang di dalamnya duduk seorang bayi perempuan berusia enam bulan. Kaelyn. “Elyn, kita sudah sampai, sayang,” ucap Sasqia sambil membetulkan topi kecil yang menutupi sebagian kepala putrinya. Kaelyn hanya menggerakkan kedua tangannya di udara. Bola matanya yang bulat menatap ke sekeliling dengan rasa penasaran. Belum sempat Kaelix mendorong stroller lebih jauh, suara langkah kaki kecil terdengar dari arah dalam mansion. “Tante Qia!” Sana berlari keluar dengan wajah yang begitu ceria.
Lima bulan kemudian. Waktu berlalu begitu cepat sejak kelahiran Kaelyn. Kini, putri kecil Kaelix dan Sasqia telah berusia enam bulan dan mulai mengenal makanan pendamping ASI. Pagi itu, Sasqia duduk di atas karpet bersama putrinya. Kaelyn berada di kursi makannya, mengenakan celemek kecil yang menutupi bagian depan pakaiannya. Di atas meja kecil di hadapan mereka telah tersedia semangkuk bubur yang dibuat khusus untuknya. Sasqia mengambil sedikit bubur menggunakan sendok kecil. “Nah, Elyn,” bujuknya dengan lembut. “Sekarang buka mulutnya, ya. Aaam ….” Kaelyn menatap sendok yang mendekat ke arah wajahnya, mulut kecilnya justru tertutup rapat. Sasqia menghela napas pelan. “Sayang, ini enak, loh.” “Aah ….” Kaelyn membuka mulutnya. Wajah Sasqia langsung berbinar. “Nah, pintar. Aaam ….” Sendok itu sege
Pesawat yang dikemudikan Tristan akhirnya mendarat dengan mulus di salah satu bandara di Italia. Setelah memastikan seluruh prosedur penerbangan selesai, pria itu meninggalkan area kru bersama beberapa awak lainnya. Seragam pilotnya masih melekat rapi di tubuh tinggi tegapnya, sementara sebuah koper beroda ditarik dengan satu tangan. Langkah Tristan membawanya melewati lorong kedatangan yang dipenuhi lalu-lalang penumpang. Baru beberapa langkah, ponsel di saku celananya bergetar. Tristan menghentikan langkah. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menatap layar yang menampilkan sebuah notifikasi dari media sosial. Sebuah unggahan milik sang adik, Jevier. Tatapan Tristan langsung tertuju pada layar. Sebuah foto memperlihatkan tangan adik bungsunya menggenggam tangan seorang perempuan. Di jari manis perempuan itu, tersemat sebuah cincin. Di bawah
“Mas, kamu tahu ini?” suara Sasqia membuat Kaelix yang baru saja masuk ke kamar menoleh. “Apa?” Kening pria itu sedikit berkerut, tetapi langkahnya tetap berlanjut ke arah boks bayi yang berada tak jauh dari ranjang. Kaelyn sudah terlelap. Pukul sembilan malam, putri kecil mereka akhirnya tertidur setelah cukup lama membuat Sasqia sibuk menemaninya. Kaelix berdiri di sisi boks. Sudut bibirnya perlahan terangkat saat melihat wajah kecil putrinya yang tampak begitu tenang. Napas Kaelyn terdengar halus dan teratur. Sesekali bibir mungilnya bergerak kecil, seolah sedang memimpikan sesuatu. “Tidurnya pulas sekali,” gumam Kaelix. Sasqia yang duduk di atas ranjang justru mengembuskan napas pendek. Ia melipat bibirnya sambil kembali menatap layar ponsel di tangannya. “Mas.” “Hm?” Kaelix mengangkat kedua a
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Makan malam berlangsung di meja makan besar dengan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mahendra duduk di ujung meja, diikuti Soraya di sampingnya. Di sisi lain ada Raka dan Shiren, sementara Sasqia duduk berhadapan dengan mereka. Sherly kecil juga ikut duduk, sibuk memainkan sendoknya sendiri. Su
“Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di
Sasqia menatap paper bag itu beberapa saat. Tatapannya turun pada tali paper bag yang masih terulur di tangan Kaelix, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali menatap pria itu. “Tidak perlu,” ucapnya halus. “Terima kasih.” Kaelix menyunggingkan senyum miring. Ia menurunkan tangannya perla







