Suara hujan terdengar pelan di luar jendela apartemen. Rintiknya jatuh perlahan di kaca, menciptakan irama lembut yang menenangkan. Aira membuka matanya perlahan. Beberapa detik pertama, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran masih kosong, lalu kesadarannya kembali sedikit demi sedikit. Ruangan itu terasa hangat, selimut tebal menutupi tubuhnya, saat Aira bergerak sedikit ia langsung menyadari sesuatu. Tubuhnya terasa berbeda, ada rasa pegal yang halus dan sedikit nyeri yang membuatnya menahan napas sejenak. Aira menoleh ke samping, tempat di sebelahnya kosong. Ia langsung menarik selimut lebih tinggi, menyadari tubuhnya yang masih polos, pipinya memerah. Jam digital di meja samping tempat tidur menunjukkan 15.07. “Aku… tidur selama itu?”, gumam Aira pelan. Baru saja ia hendak duduk ketika pintu kamar terbuka perlahan, Dipta masuk. Di tangannya ada dua cangkir, begitu melihat Aira sudah bangun, langkahnya sedikit berhenti. “Kamu sudah bangun.” Aira menatapnya, en
Read more