Home / Romansa / DIPTA / BAB 39 Konfrontasi Rania dan Menagih Taruhan

Share

BAB 39 Konfrontasi Rania dan Menagih Taruhan

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-03-31 03:27:54

Bel istirahat baru saja berbunyi. Koridor lantai dua mulai ramai oleh siswa yang keluar dari kelas masing-masing, sebagian menuju kantin dan sebagian lagi hanya berdiri di sepanjang lorong sambil mengobrol. Di dekat tangga, Dipta berdiri sambil menatap layar ponselnya, ekspresinya datar seperti biasa. Ia tampak sedang membaca sesuatu, tidak lama kemudian langkah seseorang berhenti di depannya. Dipta mengangkat pandangan, ternyata Rania.

Gadis itu berdiri dengan tangan menyilang di dada, tatapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 138 Di Hampiri Masa Lalu

    Di kamar hotel itu, suasana sudah mulai terasa seperti “rumah sementara”. Aira sedang sibuk menata isi koper di lemari, menyusun pakaian miliknya dan milik Dipta berdampingan dengan rapi. Tanktop dan celana pendeknya membuat gerakannya santai, tidak terlalu formal lebih ke mode nyaman setelah perjalanan panjang. Pintu kamar mandi terbuka. Dipta keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Hanya memakai boxer pendek selutut, tubuhnya masih basah sedikit, rambut acak tapi wajahnya tenang seperti biasa. Aira yang sedang menunduk di depan lemari otomatis melirik, cukup lama. Dipta langsung sadar. “Kenapa?” Aira tetap santai, seperti tidak merasa bersalah. “Nggak apa-apa.” "Nggak apa-apa tapi lihatnya lama.” ucap Dipta. Aira mengangkat alis sedikit. “Aku cuma lihat suamiku.” Dipta menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. “Lihat apa?” Aira menoleh lagi, kali ini lebih jujur. “Itu... beda aja.” Dipta mengangkat alisnya. “Beda apa?” Aira menjawab s

  • DIPTA   BAB 137 Perdebatan Kecil

    Jam menunjukkan sekitar 10.50 ketika mobil mulai keluar dari area kota. Dipta duduk di kursi pengemudi dengan fokus penuh, sementara Aira di sampingnya sudah lebih santai, sandar sedikit ke kursi sambil melihat jalan yang mulai berubah jadi lebih lengang. Di belakang, barang-barang sudah tertata rapi tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk beberapa hari di Bandung. Beberapa menit pertama perjalanan terasa tenang, hanya suara mesin dan pemandangan luar yang berganti pelan. Aira menoleh ke samping. “Kamu nggak capek bawa mobil sendiri?” Dipta menggeleng. “Lebih tenang kalau aku yang bawa.” Aira mengangguk pelan. “Biasanya kamu nggak suka disetir orang lain ya.” “Iya” jawab Dipta singkat. “…lebih gampang kontrol kalau aku yang pegang.” Aira lalu tersenyum kecil. “Kamu tuh dari dulu emang suka kontrol semuanya ya.” Dipta melirik sekilas. “Bukan semua.” “Apa aja?” tanya Aira penasaran. Dipta tidak langsung jawab, lalu setelah beberapa detik. “Yang penting.” Aira menatap

  • DIPTA   BAB 136 Yang di Sengaja

    Aira masih belum berhenti juga. Nada bicaranya santai, tapi jelas ada sengaja di sana semacam “menarik pelan” reaksi dari orang yang di sebelahnya. “Terus dulu kamu nggak pernah segini jauh jaraknya. Sekarang malah kayak takut sendiri.” Dipta akhirnya menghela napas panjang. Ia tidak kesal mendengar ucapan Aira, justru sekarang ia tau bahwa ini sudah masuk tahap “oke ini disengaja.” “Kamu sengaja ya?” Aira langsung diam sepersekian detik, lalu jawab dengan tenang. “Iya.” Dipta menoleh. “Kenapa?” Aira menatapnya sekilas, lalu kembali menatap langit-langit. “Kamu lucu kalau gini.” Dipta langsung diam. Dan diamnya Dipta justru membuat Aira semakin yakin kalau Dipta terpancing. Aira lanjut pelan, masih dengan nada ringan. “Dulu kamu nggak segini hati-hati... Kalau di kamar, kamu nggak pernah jaga jarak kayak sekarang.” Dipta mengalihkan pandangan sebentar, lalu menjawab pelan tapi jelas. “Dulu beda.” Aira menoleh. “Beda karena apa?” Hening sebentar. Dipta akhirnya menjawab juju

  • DIPTA   BAB 135 Perkembangan dan Batas

    Askara memang bukan anak yang “baru mulai belajar” seperti kebanyakan anak seusianya. Sejak usia sekitar 1,5 tahun, dia sudah terbiasa melihat huruf, angka, dan pola bahasa setiap hari. Bukan dengan cara dipaksa belajar, tapi lewat kebiasaan kecil di rumah yang tanpa sadar membentuknya. Aira sering menulis kadang di notes, kadang di buku kecil untuk urusan pekerjaannya sebagai penulis novel online. Huruf-huruf itu sering dibuat besar, sengaja, karena ada satu “pembaca kecil” yang selalu penasaran di dekatnya dan pembaca itu adalah Askara. Awalnya hanya menunjuk “Ini apa?” Lalu berubah jadi mengeja pelan. “…A… I… R… A…” Lama-lama anak itu jadi terbiasa. Sampai akhirnya bukan hanya huruf, tapi juga angka, pola, dan logika sederhana ikut masuk tanpa terasa. Sekarang, saat masuk usia playgroup, Askara sudah jauh lebih maju dibanding anak seusianya. Dia sudah bisa membaca kata-kata sederhana dengan cukup lancar, mengenali angka tanpa ragu, bahkan mulai memahami konsep dasar penjumlahan

  • DIPTA   BAB 134 Perubahan

    Sore itu, sekitar jam empat lewat sedikit, suasana rumah mulai berubah lagi. Bukan jadi sepi total tapi jelas lebih ringan. Indri Mahesa dan Hadiyasa Mahesa sudah lebih dulu pamit, disusul Arjito Rajendra dan Linda yang juga akhirnya pulang setelah obrolan panjang yang terasa seperti reuni masa lalu yang terlalu jujur untuk ukuran satu hari. Begitu mobil terakhir keluar dari halaman, rumah itu langsung terasa lebih “longgar”. Aira berdiri di dekat pintu, masih sedikit melamun, seperti otaknya belum selesai memproses semua cerita tadi. Di belakangnya, Dipta baru saja menutup pintu. “Capek?” tanya Dipta pelan. Aira menoleh, lalu menghela napas panjang. “Capek sih. Tapi lebih ke… penuh.” Dipta mengangguk kecil. “Hari ini memang terlalu banyak sejarah yang keluar sekaligus.” Dari ruang tengah, suara kecil terdengar. Askara masih sibuk sendiri, main tanpa peduli dunia orang dewasa yang barusan “rapat besar keluarga”. Aira melirik ke arah suara itu, lalu sedikit tersenyum. “Tapi aneh

  • DIPTA   BAB 133 Nostalgia Para Orang Tua

    Begitu semua sudah masuk, suasana rumah Dipta langsung berubah dari “kunjungan mendadak” jadi “piknik keluarga yang tidak direncanakan”. Dari arah dapur, terdengar suara plastik kresek dan kotak makanan diturunkan satu per satu. Indri Mahesa datang dengan dua tas besar. “Ini Bunda masakin sup, sama lauk ringan.” Belum selesai bicara, dari belakang Linda sudah menyusul sambil meletakkan beberapa kotak. “Ibu bawa makanan favorit kamu juga.” Aira yang berdiri di ruang tengah langsung diam. “Ini rumah atau acara potluck…” gumamnya pelan. Di sisi lain, Askara sudah lebih dulu “sibuk”. Dia duduk di karpet ruang keluarga, membuka satu persatu cemilan yang dibawa Indri dan Linda. “Ini buat aku semua?” Indri langsung tersenyum. “Iya, tapi jangan makan banyak-banyak dulu ya.” Linda ikut menambahkan sambil mengelus kepala Askara. “Kalau ini habis, nanti nenek bikin lagi.” Askara langsung mengangguk serius. “Aku akan evaluasi kualitasnya.” Aira hampir tersedak tawa kecil dengar i

  • DIPTA   BAB 8 Persaingan & Flirty Close Call

    Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area s

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

  • DIPTA   BAB 5 Persaingan dan Strategi

    Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status