Sore itu, sebuah kafe tidak jauh dari pusat kota cukup ramai. Di salah satu sudut, empat orang sudah duduk santai sejak tadi. Angger bersandar di kursi, kakinya selonjoran, Bayu sibuk dengan minumannya dan Raka lebih banyak diam, memainkan sendok di gelasnya. Sementara David tampak santai, ponselnya di tangan. “Mana sih orangnya?”, keluh Bayu. “Ngaret mulu.” “Biasa”, jawab Angger santai. “Orang sibuk.” “Gaya”, gumam Bayu. Belum sempat mereka lanjut seseorang datang. Dipta, langkahnya tenang seperti biasa, ekspresinya datar. Ia langsung duduk tanpa banyak basa-basi. “Lama”, komentar Bayu. “Macet”, jawab Dipta singkat. Padahal tidak, namun tidak ada yang mempermasalahkan. Beberapa menit awal diisi obrolan ringan, tentang sekolah, tentang kelulusan dan tentang rencana setelah lulus. Sampai akhirnya topik itu muncul. “Eh”, ucap David tiba-tiba, matanya beralih ke Dipta. “Ngomong-ngomong…” Dipta melirik sekilas. “Apa?” David menyandarkan tubuhnya. “Udah lewat, ya?” “A
Read more