Pagi itu terasa berbeda bagi Aira, bukan karena cuaca dan bukan karena jadwal pelajaran, tapi karena sejak membuka mata, ada satu wajah yang langsung muncul di kepalanya, Dipta. Aira berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya. Tangannya sempat berhenti beberapa detik ketika bayangan semalam melintas sentuhan lembut, jarak yang terlalu dekat, napas yang hampir bertabrakan. Pipinya menghangat. “Kenapa sih senyum sendiri…”, gumamnya pelan. Di ruang makan, ibunya memperhatikan tanpa banyak komentar, hanya senyum kecil yang penuh arti. Setelah selesai sarapan dan juga bersiap, akhirnya Aira pamit pergi ke sekolah. Bel pertama hampir berbunyi ketika Aira berjalan menyusuri lorong XI IPA 2. Tasnya tersampir rapi, langkahnya ringan. Beberapa siswa menoleh, bukan karena ia berbeda tapi karena ia terlihat lebih hidup, lebih berwarna. Di ujung lorong, Rania sudah berdiri. Seragamnya rapi sempurna, rambutnya tergerai halus, tangannya menyilang di dada dan tatapannya tajam, terarah lan
Read more